Waspadai Hipertensi !!!


Setiap kali memberikan pelayanan kesehatan ataupun pengobatan ke masyarakat umum, sering sekali kami (tim medis) menemukan kasus hipertensi. Penyakit ini sering kali dianggap sepele karena tidak menunjukkan tanda-tanda atau gejala yang nyata namun ternyata berimplikasi banyak terhadap meningkatnya faktor resiko munculnya berbagai penyakit lainnya terutama komplikasi pada organ – organ vital seperti jantung, otak ataupun ginjal.

Hipertensi merupakan “silent killer ” (pembunuh diam-diam) yang secara luas dikenal sebagai penyakit kardiovaskular yang sangat umum. Dengan meningkatnya tekanan darah dan gaya hidup yang tidak seimbang dapat meningkatkan faktor risiko munculnya berbagai penyakit seperti arteri koroner, gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal. Diperlukan berbagai upaya untuk meningkatkan terapi obat demi mencapai target tekanan darah yang diinginkan. Paling sedikit 50% pasien yang diresepkan obat antihipertensi tidak meminum obat sesuai yang direkomendasikan. Strategi yang paling efektif adalah dengan kombinasi strategi seperti edukasi, modifikasi sikap dan sistem yang mendukung.

Tentu saja diperlukan peran profesi kesehatan seperti dokter dan Apoteker. Apoteker dapat menjadi perantara antara pasien dan dokter dalam hal terapi farmakologi maupun terapi non farmakologi.

PENGENALAN PENYAKIT

Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Penderita yang mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi. Hipertensi merupakan suatu penyakit dengan kondisi medis yang beragam. Pada kebanyakan pasien etiologi patofisiologinya tidak diketahui (hipertensi primer). Hipertensi primer ini tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol. Kelompok lain dari populasi dengan persentase rendah mempunyai penyebab yang khusus, dikenal sebagai hipertensi sekunder. Bila penyebab hipertensi sekunder dapat diidentifikasi, hipertensi pada pasien-pasien ini dapat disembuhkan secara potensial.

Tekanan darah arteri adalah tekanan yang diukur pada dinding arteri dalam mmHg. Dua tekanan darah arteri yang biasanya diukur, tekanan darah sistolik (TDS) dan tekanan darah diastolik (TDD). TDS diperoleh selama kontraksi jantung dan TDD diperoleh setelah kontraksi sewaktu bilik jantung diisi. Banyak faktor yang mengontrol tekanan darah berkontribusi secara potensial dalam terbentuknya hipertensi; faktor-faktor tersebut adalah
• Meningkatnya aktifitas sistem saraf simpatik (tonus simpatis dan/atau variasi diurnal), mungkin berhubungan dengan meningkatnya respons terhadap stress psikososial dll
• Produksi berlebihan hormon yang menahan natrium dan vasokonstriktor
• Asupan natrium (garam) berlebihan

Klasifikasi
Klasifikasi tekanan darah untuk dewasa umur = 18 tahun menurut JNC 7

Komplikasi
Tekanan darah tinggi dalam jangka waktu lama akan merusak endothel arteri dan mempercepat atherosklerosis. Komplikasi dari hipertensi termasuk rusaknya organ tubuh seperti jantung, mata, ginjal, otak, dan pembuluh darah besar. Hipertensi adalah faktor resiko utama untuk penyakit serebrovaskular (stroke, transcient ishcemic attack), penyakit arteri koroner, gagal ginjal, dementia, dan atrial fibrilasi.

Diagnosis
Hipertensi seringkali disebut sebagai “silent killer” karena pasien dengan hipertensi esensial biasanya tidak ada gejala (asimptomatik). Penemuan fisik yang utama adalah meningkatnya tekanan darah. Pengukuran rata-rata dua kali atau lebih dalam waktu dua kali kontrol ditentukan untuk mendiagnosis hipertensi. Tekanan darah ini digunakan untuk mendiagnosis dan mengklasifikasikan sesuai dengan tingkatnya. Pemeriksaan laboratorium rutin yang direkomendasikan sebelum memulai terapi antihipertensi adalah urinalysis, kadar gula darah dan hematokrit; kalium, kreatinin, dan kalsium serum; profil lemak (setelah puasa 9–12 jam) termasuk HDL, LDL, dan trigliserida, serta elektrokardiogram. Pemeriksaan opsional termasuk pengukuran ekskresi albumin urin atau rasio albumin / kreatinin. Pemeriksaan yang lebih ekstensif untuk mengidentifikasi penyebab hipertensi tidak diindikasikan kecuali apabila pengontrolan tekanan darah tidak tercapai.
Kerusakan organ target didapat melalui anamnesis mengenai riwayat penyakit atau penemuan diagnostic sebelumnya guna membedakan penyebab yang mungkin, apakah sudah ada kerusakan organ target sebelumnya atau disebabkan hipertensi. Anamnesis dan pemeriksaan fisik harus meliputi hal- hal seperti:
1. Otak: stroke, TIA, dementia
2. Mata: retinopati
3. Jantung: hipertropi ventrikel kiri, angina atau pernah infark miokard, pernah revaskularisasi koroner
4. Ginjal: penyakit ginjal kronis
5. Penyakit arteri perifer

Tanda / Gejala
Secara umum pasien dapat terlihat sehat atau beberapa diantaranya sudah mempunyai faktor resiko tambahan, tetapi kebanyakan asimptomatik.
Faktor resiko mayor
Hipertensi
Merokok
Obesitas (BMI =30)
Immobilitas
Dislipidemia
Diabetes mellitus
Mikroalbuminuria atau perkiraan GFR55 tahun untuk laki-laki, >65 tahun untuk perempuan)
Riwayat keluarga untuk penyakit kardiovaskular prematur (laki-laki < 55
tahun atau perempuan < 65 tahun)
Otak : Stroke atau TIA
Penyakit ginjal kronis
Penyakit arteri perifer
Retinopathy
*BMI = Body Mass Index; GFR= glomerular Filtration Rate; TIA = transient ischemic

Tujuan Terapi
Tujuan umum pengobatan hipertensi adalah penurunan mortalitas dan morbiditas yang berhubungan dengan hipertensi. Target nilai tekanan darah yang direkomendasikan dalam JNC VII adalah
• Kebanyakan pasien < 140/90 mmHg
• Pasien dengan diabetes <130/80 mmHg
• Pasien dengan penyakit ginjal kronis <130/80 mmHg

Penatalaksanaan Hipertensi
1. Terapi nonfarmakologi
Modifikasi gaya hidup yang penting yang terlihat menurunkan tekanan darah adalah mengurangi berat badan untuk individu yang obesitas atau gemuk, mengadopsi pola makan DASH (Dietary Approach to Stop Hypertension) yang kaya kalium dan kalsium, diet rendah natrium.


2. Terapi farmakologi
Kebanyakan pasien dengan hipertensi memerlukan dua atau lebih obat antihipertensi untuk mencapai target tekanan darah yang diinginkan. Penambahan obat kedua dari kelas berbeda dimulai apabila pemakaian obat tunggal dengan dosis lazim gagal mencapai target tekanan darah. Apabila tekanan darah melebihi 20/10 mmHg diatas target, dapat dipertimbangkan untuk memulai terapi dengan dua obat. Yang harus diperhatikan adalah resiko untuk hipotensi ortostatik, terutama pada pasien-pasien dengan diabetes, disfungsi autonomik, dan lansia. Pada JNC 7 merekomendasikan diuretik tipe tiazid bila memungkinkan sebagai terapi lini pertama untuk kebanyakan pasien, baik sendiri atau dikombinasi dengan salah satu dari kelas lain (ACEI, ARB, penyekat beta, CCB).

Evaluasi Terapi
Untuk mengukur efektifitas terapi, hal-hal berikut harus di monitor :
1. Tekanan darah
Respon terhadap tekanan darah harus dievaluasi 2 sampai 4 minggu setelah terapi dimulai atau setelah adanya perubahan terapi. Target tekanan darah pada kebanyakan pasien adalah < 140/90 mmHg, dan pada pasien diabetes dan pasien dengan gagal ginjal kronik < 130/80 mmHg.
2. Kerusakan target organ : jantung, ginjal, mata, otak.

Kepatuhan (adherence)
Pasien yang menghentikan terapi antihipertensinya 5 kali lebih besar terkena stroke. Oleh sebab itu, hendaknya pasien :
a. Mengetahui target nilai tekanan darah yang diinginkan
b. Sadar kalau tekanan darah tinggi sering tanpa gejala (asimptomatik)
c. Mengetahui konsekuensi yang serius dari tekanan darah yang tidak terkontrol
d. Kontrol tekanan darah secara teratur
e. Mengetahui efek samping obat yang dikonsumsi dan konsultasikan ke dokter/apoteker tentang penanganannya
f. Mengkombinasikan dengan terapi nonfarmakologi karena juga sangat penting
g. Mengetahui obat-obat/ makanan yang harus dihindari (seperti obat-obat yang mengandung ginseng, nasal decongestan, dll)

Sumber:
Depkes, 2006, Pharmaceutical Care untuk Penyakit Hipertensi, Jakarta : Depkes RI.
LPPM STIKES Ahmad Yani, Diet Penyakit Hipertensi, Cimahi.
JNC VII

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s