Melihat Lebih Dekat: “Konsep Pengelolaan Sampah Desa Sukunan”


Guys, kali ini saya ingin sedikit berbagi hasil wisata kami (saya dan teman-teman saya_red) ke sebuah desa. Bukan sembarang wisata karena kami ke sana ingin belajar bagaimana konsep pengelolaan sampah yang berdaya guna. Desa Sukunan, sebuah desa yang terletak di Sleman, Yogyakarta. Kami semua memiliki ketertarikan yang sama yakni melihat secara lebih dekat bagaimana konsep pengelolaan sampah dan pemberdayaan masyarakat (community empowerment) terkait pelaksanaan konsep tersebut. Tak hanya pembelajaran kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan (environmental education) namun juga benefit yang didapat dari segi ekonomi kreatif melalui pengolahan sampah (useless things) menjadi barang yang berguna (useful things). Dan kata-kata yang pertama terlontar dari kami adalah “How Amazing!”….
Ok, mari kita mulai cerita kunjungan ini…Pertama kali masuk ke desa ini yang ada di benak saya adalah bersih banget yah desa ini! Tak tampak sampah berceceran satu pun. Setelah itu, kami pun menemui salah satu warga desa yang nantinya akan menjadi guide yang akan menemani kami berkeliling-keliling desa ini. Oh ya, karena desa ini sudah menerapkan konsep desa wisata edukasi berbasis lingkungan (eco-tourism village), maka setiap pendatang yang ingin melihat langsung dan belajar tentang pengelolaan sampah di desa ini dikenakan biaya sekitar Rp 100.000,- hingga Rp 200.000,- tergantung anggota kelompok yang nantinya akan dimasukkan ke dalam kas desa. Biaya yang cukup murah khan untuk harga sebuah pengalaman, pelajaran, dan upaya menjaga lingkungan yang tak ternilai harganya!

Ok, pelajaran pertama, ditemani oleh 2 orang ibu-ibu PKK kami melihat dan mendapat penjelasan langsung tentang pembuatan pupus kompos. Ternyata, membuatnya tidak susah lho! Bisa dipraktekkan neh di rumah…Pertama-tama, sampah yang berupa dedaunan atau jerami dan sampah organik rumah tangga lainnya dimasukkan ke dalam gentong tanah liat yang didesain khusus sehingga dapat memicu pertumbuhan bakteri. Langkah selanjutnya adalah tambahkan tanah ke dalam gentong dan biarkan hingga sampah organik menyatu dengan tanah dan turun hingga ke dasar gentong. Proses ini bisa memakan waktu sekitar 2-3 bulan. Langkah terakhir adalah pupuk yang sudah jadi dengan tekstur lebih lunak bisa diambil melalui bagian paling bawah gentong di mana pada dasar gentong terdapat lubang untuk mengambil pupuk yang sudah jadi. Dan begitu seterusnya…

Pelajaran Kedua, selain di tiap rumah masing-masing kepala keluarga sudah memisahkan antara sampah kaca/logam, sampah plastik, dan sampah kertas, desa ini juga memiliki tempat penampungan sampah. Tempat penampungan sampah ini merupakan tempat pengumpulan sampah-sampah yang berasal dari tiap rumah di desa tersebut. Di dalamnya sampah-sampah tersebut sudah dipisahkan menjadi sampah plastik, sampah kaca/logam, dan sampah kertas. Hal ini dimaksudkan agar; a) tidak merusak tekstur sampah. Jika sampah plastik digabung dengan sampah beracun maka nantinya tekstur dan komposisi kimiawinya akan berubah sehingga dikhawatirkan tidak bisa diolah menjadi produk lain yang siap pakai; b) agar pengelolaan sampah lebih efektif dan efisien, tidak membuang-buang waktu untuk memilah-milah sampah satu per satu kembali.

Pelajaran ketiga, kelompok kami dibawa ke sebuah rumah di mana di sana kumpulan ibu-ibu (biasa disebut PKK) mengolah sampah plastik menjadi barang yang lebih berguna seperti payung, tas, dompet, lampu hias, bantalan tempat duduk hingga pembalut daur ulang (napkin re-usable)…hihihihihi. Seperti zaman nenek moyang dulu juga sudah menggunakan pembalut daur ulang lho! (based on my grandma story…)

Ternyata, sampah yang tadinya tidak bernilai sekarang bisa bernilai ekonomis yah! Tentu saja, dari pengolahan produk tersebut bisa memberi nilai tambah secara ekonomi bagi masyarakat desa tersebut.

Pelajaran keempat, kami juga melihat pembuatan batu bata dan pot-pot bunga yang terbuat dari komposisi 1 bagian semen, 3 bagian pasir, dan 3 bagian styrofoam yang digranulasi. Setelah bagian-bagian tersebut ditambahkan, langkah selanjutnya dicetak dan dikeringkan di bawah sinar matahari. Menurut narasumber dari desa tsb, ketika gempa bumi besar yang terjadi di Yogyakarta batu bata yang terbuat dari komposisi tersebut digunakan untuk membangun 5 buah rumah di desa tersebut.

Pelajaran kelima, kami juga sempat melihat-lihat unit pengolahan limbah cair (IPAL Komunal Kelompok) di Desa Sukunan ini. Saya salut dengan sistem yang tersusun sedemikian rapinya di desa ini. Selain itu, sistem yang dibuat itu, juga dikomunikasikan dengan baik dengan seluruh warga desa yang ada di sana dan ‘disederhanakan’ agar mudah diimplementasikan.

Kabarnya, konsep pengelolaan sampah di daerah ini dijadikan model percontohan untuk desa-desa lain di Indonesia. Bahkan berkat kegigihan ‘Sang Pencetus & Penggerak’ program ini, Bapak Iswanto, sebuah lembaga di Australia pun tertarik untuk membantu lancarnya pelaksanaan program ini. Wah kalo semua desa di Indonesia menerapkan sistem seperti ini, saya tidak bisa bayangkan betapa ‘bersihnya’ negeri saya🙂.

5 thoughts on “Melihat Lebih Dekat: “Konsep Pengelolaan Sampah Desa Sukunan”

    • benert banget… kak
      wih… kak chacha pinter banget ngerancang kata- katanya yang ngebuat aku penasaran sampai” ak bacanya sampai akhir.
      pokoknya keren banget kampungnya

      • Hi Salsabila,

        Thanks ya dah mampir ke blogku. Hehehhee bisa aja deh Salsabila ini. Iya, kampungnya keren, warganya juga keren2/
        Letaknya di Desa Sukunan, Gamping, Sleman. Di google maps aja say, ada kok di peta😉
        Kapan2 mampir ke sana ya, kamu bs belajar banyak dsn….

        -Chacha-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s