A Letter to My Dear


My Dear,

Saya tak tahu lagi bagaimana caranya agar saya bisa berkomunikasi dengan mas sehingga saya beranikan untuk menulis di blog saya yang sederhana ini. Blog ini pun saya buat sebenarnya selain sebagai sarana sharing ide, media saya untuk memotivasi diri dan orang-orang di sekitar saya, jujur ini saya buat karena dorongan mas juga untuk terus menulis. Berharap mas akan sempat membacanya di tengah kesibukan kita berdua yang mungkin tidak bisa ‘dinego’.

Banyak hal-hal baik yang terjadi pada diri saya dan orang-orang di sekitar saya, ingin rasanya saya berbagai hal-hal itu. Tentunya, khusus untuk mas tidak hanya hal baik tapi juga (mungkin) kesedihan, kegundahan, kegalauan saya di masa transisi ini. Ternyata tidak semudah yang saya bayangkan ya! Orang berubah, keadaan juga selalu berubah, dan saya harus cepat beradaptasi dengan perubahan yang terjadi itu, termasuk saat-saat di mana komunikasi tidak berjalan lancar seperti yang saya harapkan.

Saya harap mas di sana baik-baik saja, dalam keadaan sehat walafiat, tidak kurang suatu apapun. Manusiawi sekali bukan kalau ada saat-saat berpikir negatif, tapi saya tetap berusaha berpikir positif (sekuat tenaga saya). Saya juga selalu doakan orang-orang terdekat saya agar mereka selalu diberi kemudahan dalam apapun yang mereka sedang usahakan, termasuk mas. Semoga studi mas di sana lancar dan bisa lulus tepat waktu kemudian pulang dan mengamalkan ilmunya…Tetap niatkan untuk jihad, mungkin jihad untuk keluarga mas, untuk ibu-bapak mas, dan saya doakan semoga mas tetap istiqomah di jalanNya. Mungkin hidup di negara orang di mana budaya, life-style akan mempengaruhi cara pandang dan interaksi dengan orang. Saya yakin mas di sana bisa menjaga diri, kalau pun ada sesekali ‘melenceng’, semoga Allah cepat menuntun mas kembali di jalanNya…

Saya yakin Allah yang Maha Baik, Maha Mendengar, dan Maha Pemberi Keputusan Yang Adil akan selalu mendengar rintihan hambaNya di tiap sujud panjang kita…Jika memang Allah menghendaki sesuatu itu tidak terjadi, apa daya segala daya upaya yang kita usahakan, dan mungkin Allah sedang menguji kesabaran kita berdua. Saya sedang berusaha untuk mengembalikan kondisi hati kembali ke keadaan netral, belajar menerima apa yang tidak bisa didapatkan sekarang, dan selalu berusaha yang terbaik apa yang saya bisa.

Mas, oh ya saya sampai lupa kabar-kabar baik apa yang saya pengen sharing. Entah kenapa, saya merasa akhir-akhir ini Allah sedang membukakan banyak pintu menuju apa yang saya sudah rencanakan sebelumnya. Alhamdulillah, satu kata syukur yang memiliki makna sangat dalam. Semoga ini bukannya untuk riya…Saya sempat bimbang pilihan apa yang akan saya ambil setelah lulus ini, memilih menjadi praktisi di industri atau akademisi, memilih berkarier di industri atau terjun berbisnis bersama partner (teman saya_red). Tiap kesempatan harus ditangkap dengan cepat. Di tengah kesibukan persiapan menjelang ujian komprehensif, saya dikejutkan dengan lolos tahap I untuk apply scholarship master course begitu…Tak lama setelah itu, dosen saya yang sedang kuliah di Amerika, bertanya ‘Apakah mau bergabung dengan Fakultas untuk menjadi akademisi (dosen_red)?’ dan saya tahu kalau Fakultas saya dalam tahun ini dan mendatang akan banyak sekali butuh tenaga-tenaga pengajar baru. Dan pertanyaan itu, sudah 3 kali datang dari dosen berbeda-beda sebenarnya, cuma saya menanggapinya masih setengah-setengah. Namun konsekuensinya saya harus cepat dapat sekolah lagi (S2_red) karena ada batasan umur yang cukup ketat untuk UGM. Satu lagi kesempatan yang saya dapat mas, saya iseng kemarin apply job vacancy dan ternyata lolos juga….Awalnya hanya iseng, drop CV –> lolos, tes psikotes –> lolos, interview –> lolos sampe akhirnya diminta presentasi (sedang menunggu jawaban). Saya yakin saya kandidat kuat untuk pekerjaan ini karena user (yang ngetes) bilang ‘kami akan hubungi by phone yah, ntar kita bisa nego gaji by phone juga’…Bakal sibuk memang kerjaannya tapi saya suka karena terkait erat dengan bisnis dan marketing (asyiikkkkk kesempatan bisa memperluas link & mengasah naluri bisnis saya). Toeng toeng toeng, sungguh tidak menyangka jalannya bakal semulus itu. Lagi-lagi alhamdulillah, Allah Maha Baik, apapun keputusannya pasti yang terbaik buat saya dan orang-orang sekitar saya. Oh ya minggu ini adalah minggu-minggu saya ujian pre-komprehensif dan komprehensif, doakan saya yah mas supaya dapat A.

Jujur saja, di tengah kesibukan bermacam-macam seperti itu saja, saya masih sempat memikirkan hal-hal lain, tentang mengelola wisuda dan sumpahan yang tinggal sebentar lagi, memanage konflik-konflik kecil yang muncul di kalangan kampus karena menjelang ujian tiap orang jadi ‘tegangan tinggi’, selalu menyediakan waktu untuk orang tua, adik saya semata wayang, dan juga sahabat-sahabat saya, dan tentunya waktu untuk diri saya sendiri. Makanya saya heran sekali, pas menemukan orang unik kayak mas. Hehehe…peace ah, saya tidak mau bertengkar.

Suatu hubungan itu menurut saya harus take and give, tidak hanya saling menuntut pasangan untuk menjadi apa yang seperti kita inginkan, tapi juga saling mengisi satu sama lain. Kalau bukan untuk itu, untuk apa ada PASANGAN, pasangan khan makna harfiahnya komplementer (saling melengkapi_red). Saya sadar saya punya banyak kelemahan, ada saat di mana juga down walaupun lebih sering berapi-apinya (hehehe….), ada saatnya ingin didengarkan, ada saatnya ingin juga mendengarkan…jadi saya juga perlu seseorang untuk menutupi kelemahan-kelemahan saya (dan mungkin itu malah kelebihan dia) dan melengkapi hidup saya. Di usia saya yang makin ‘matang’ ini (hehehe gak mau dibilangin makin tua soalnya…wkwkwk), ada beberapa cara pandang saya yang berubah, termasuk saya menjadi realistis melihat apa yang ada di depan, bukan hanya pake perasaan tapi pake logika. Tambahan lagi, saya merasa kok jadi semakin ekspresif yah akhir-akhir ini, lebih berani mengungkapkan sesuatu. Semoga itu hal baik bagi saya!

Terakhir, saya mau bilang. Saya sebenarnya tidak bisa bohong dalam hati saya, sebenarnya saya rindu…sungguh-sungguh rindu (kayak judul sinetron aja!!! Hehehe). Namun saatnya sekarang harus realistis, saya bukan mencari seseorang yang bersinar terang di sana tapi tidak bisa saya jangkau, saya butuh seseorang untuk melengkapi kekurangan saya begitu pula dengan dia, mungkin saya bisa melengkapi kekurangan dia. Berbagi harapan dan cita-cita ke depan, saling menguatkan, dan memotivasi satu sama lain. Harapan-harapan orang tua, keluarga, sahabat juga tidak bisa diabaikan, jelas karena di dunia ini saya tidak hidup sendiri. Mereka begitu karena sayang pada kita…

PS: Sebenarnya saya berharap bangeeettt di hari ulang tahun saya kemarin, saya mendapat kiriman sms sederhana saja dari seseorang, mengucapkan selamat ulang tahun, cuma gak dapet…(childish banget yah…hehehe muka saya ampe blushing neh…). Tapi mending ngomong khan daripada saya ngambek gara-gara hal sepele…Apalagi kalau ngambeknya kelamaan. Hehehe kalau udah ngambek, lama deh baiknya…*Cha-cha, geleng-geleng kepala sendiri

Yogya, 06 Februari 2012
-Cha-Cha is enjoying the process known as growing up a bit more-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s