Nothing’s Wrong with Crying


Jika ada yang menjadi masalah, maka itu adalah apa yang kita tangisi.
Ketika kita teringat akan impian-impian yang kita yakini,
ketika kita teringat akan nilai-nilai yang kita percayai,
ketika kita teringat akan orang-orang yang kita kasihi,
ketika kita teringat akan kesalahan-kesalahan yang kita sesali,
maka bukan mustahil menangis menjadi suatu hal yang lumrah dan alamiah.
Sama sekali tidak tabu!

Akan tetapi, kalaulah kita mengucurkan air mata karena kehilangan, kegagalan, atau kebuntuan,
Maka itu adalah sinyal kelemahan kita.
Kita harus malu karenanya!

‘Menangislah bila harus menangis’
Bukan sembarang meneteskan air mata.
Sejenak dan sesekali, menangislah demi impian-impian, nilai-nilai, orang-orang yang terkasih, dan penyesalan-penyesalan.
Percayalah, kita tidak pernah menjadi lemah karenanya. Justru sebaliknya!
Setelah itu, seolah-olah kita akan memperoleh suatu pencerahan, kelegaan, dan kekuatan. Itu semua patut dinikmati.

Jika sepanjang hidup kita tidak pernah menangis satu kali pun, tidak menutup kemungkinan bahwa hati kita sudah mengeras. Betul-betul membeku, betul-betul membatu.

(Kutipan dari Buku 10 Jurus Terlarang Karangan Ippho Santosa)

Tulisan dalam buku Ippho Santosa ini cukup ‘menampar’ saya hari ini. Teringat bagaimana saya menangis sejadi-jadinya ketika saya merasa kehilangan akan seseorang (kekasih_red). Tangisan itu menunjukkan betapa posesifnya saya, betapa egonya saya, dan betapa tidak rasionalnya saya. Jika memang dia dan saya akan memperoleh sesuatu yang lebih baik, lalu mengapa saya harus menangis secara berlebihan? Tanya kenapa??? Hahaha saya juga tidak tahu, saat itu sedang ‘ingin’ terbawa perasaan saja… Walaupun di lain waktu, saya jadi teringat ketika masa-masa saya banyak ‘menangis’ dan hampir setiap malam-malam saya selalu disibukkan dengan pikiran bagaimana membawa organisasi yang saya ‘nakhodai ‘ lebih maju. Percaya atau tidak, saya pernah menangis di sudut kamar ketika kami (saya dan Pengurus Harian Wilayah lainnya di JMKI), memiliki suatu cita-cita untuk menjadikan Latihan Kepemimpinan Tingkat Wilayah sebagai suatu agenda rutin kembali, dan sempat ‘mandeg’ di tengah jalan karena keterbatasan finansial, kaderisasi yang morat-marit, adanya mosi ketidakpercayaan daerah lain, hingga belum adanya panduan kurikulum yang memadai tentang apa saja yang akan diberikan. Bukan hanya menjadi rutinitas, kala itu kami bercita-cita menjadikan LKMM Jogja sebagai ‘model percontohan dengan membuat suatu yang tak biasa’. Dalam perjalanan itu, kami pernah menangis bersama bahkan bertengkar satu sama lain, namun itu adalah ‘proses menuju pendewasaan diri dan organisasi’.
Saya percaya dan saya yakin 100 %, ‘Impian yang luar biasa akan menghimpun orang-orang yang luar biasa pula. Tanpa disangka-sangka, mereka bagaikan dikirim oleh Tuhan kepada Anda untuk merealisasikan impian-impian Anda’. Untuk teman-teman saya yang percaya akan IMPIAN, GO CONFIDENTLY in the direction of your dreams. LIVE THE LIFE you have imagined!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s