Konsumen Cerdas: ‘Cerdas dalam Mengenali Obat’


Nah, pembaca budiman, kali ini saya ingin berbagi sedikit apa yang saya ketahui tentang bagaimana mengenali obat yang akan dikonsumsi. Tentunya pembaca, sebagai konsumen yang cerdas tidak serta-merta ‘membeli’ obat begitu saja tanpa tahu ‘benar’ tentang obat-obatan yang akan dikonsumsi. Ingat, obat itu juga ‘racun’ jika dosis penggunaannya tidak tepat. Apalagi di era modern sekarang ini, informasi tentang bagaimana mengenali, memilih, dan menggunakan obat secara bijak bertebaran di mana-mana. Saya rekomendasikan sebelum membeli dan memilih obat, coba dicek terlebih dahulu, entah itu bertanya ke teman yang ‘orang kesehatan’ (dokter & farmasis) atau lewat online (sekarang banyak yang menyediakan layanan online untuk konsultasi seputar obat gratis).
Obat dan Penggolongannya

Di sini, saya mencoba menyederhanakan bahasa agar tidak terkesan menggurui, karena menurut saya ‘edukasi ke konsumen itu penting’. Di sini, saya lebih senang menggunakan kata konsumen daripada pasien agar tidak terkesan obat itu hanya diperlukan untuk orang yang sakit saja. Nah, kalo pembaca ada yang pernah liat obat ada yang didisplay di apotek, toko obat, swalayan bahkan di warung-warung kecil, mungkin ada yang bertanya-tanya, kok bisa tempat-tempat selain apotek dan toko obat menjual obat-obatan. Ya, bisa karena memang obat-obat bebas (bahasa kerennya: Obat Over the Counter/OTC) bisa didapatkan di mana saja (tidak harus di apotek_red). Obat sendiri bisa diliat penggolongannya seperti di atas, pasien dalam memberikan obat bisa pake resep ataupun tanpa resep. Obat-obat tanpa resep (seperti Obat Bebas, Obat Bebas Terbatas, dan Obat Wajib Apotek) bisa dibeli dan didapatkan langsung di apotek, toko obat, bahkan di warung-warung kecil tanpa harus berkonsultasi dengan dokter. Namun, saya sarankan lebih baik beli di apotek atau toko obat yang tempat penyimpanannya lebih terjamin. Sedangkan obat-obat tanpa resep seperti obat-obat psikotropika, narkotika, dan obat keras HARUS dengan resep dokter. Nanti di bahasan selanjutnya, akan dibahas masing-masing golongan obat satu per satu.
Obat-Obatan Tanpa Resep
Obat Bebas


Obat ini ditandai dengan logo lingkaran berwarna hijau.
Obat Bebas Terbatas

Obat ini ditandai dengan logo lingkaran berwarna biru.
Tanda Peringatan Obat Bebas Terbatas
Obat Bebas Terbatas diberikan dalam jumlah tertentu yakni jumlah yang terbatas untuk penggunaan cukup aman, apabila terlalu banyak akan menimbulkan efek kurang baik. Oleh karena itu, dalam kemasannya akan tertera Tanda Peringatan sebagai berikut:
<
Obat Wajib Apotek (OWA)

Obat-Obatan Dengan Resep
Pembaca, jangan main-main dengan obat-obatan yang dipersyaratkan harus dengan resep dokter. Hubungi dokter Anda dan berkonsultasilah. Selanjutnya, hubungi farmasis Anda agar ‘tujuan terapi’ tercapai. Nah gini pembaca, dalam menentukan ‘pengobatan’ yang tepat dokter dan farmasis juga perlu menyusun rencana/algoritma terapi meliputi pemilihan obat, penggantian atau alternatif obat, dosis, pengaturan minum obat (jadwal, rute, dan lama pemberian). Hal-hal tersebut harus melibatkan si pasien (kali ini pake pasien_red) juga supaya bisa memecahkan masalah terapi obat sampai tuntas. Selain itu, juga untuk menghindarkan terjadinya DRP (Drug-Related Problem) seperti terapi obat yang salah, obat yang salah, dosis terlalu rendah atau tinggi, efek samping obat, ketidakpatuhan penggunaan obat, dan perlunya terapi tambahan obat. Dalam tulisan selanjutnya, akan dibahas lebih lanjut ya tentang apa saja yang ‘harus’ pasien tahu dari konsultasi dengan dokter dan farmasis.
Obat-Obat Narkotika dan Psikotropika

Obat-Obat Keras

Bagi pembaca yang sudah tahu, kalo antibiotika kayak Amoxycyclin harusnya didapat dengan resep dokter, besok-besok kalo beli di apotek jangan ‘main langsung’ beli aja ya (dijewer aja farmasisnya yang nakal….hehehe_red). Saya contohkan Amoxycyclin karena antibiotik itu ‘paling sering’ keluar tanpa resep dokter.
Pesan saya, jadilah konsumen yang cerdas, ini bukan ‘mentang-mentang’ karena saya anak kesehatan loh ya tapi supaya pembaca sebagai konsumen bisa mendapatkan obat yang aman, manjur, efektif, dan juga meminimalkan cost/biaya untuk penggunaan obat-obatan yang tidak perlu. Nantikan tulisan selanjutnya seputar penggunaan obat (hahaha…soalnya dalam 2 bulan ke depan saya akan ujian jadi jangan heran bahasan di blog saya akan ‘penuh’ dengan kisah seputar obat). Semoga bermanfaat!

Mau narsis ah, buat menstimulasi saya di Ujian Kompre nanti…

Hafsyah Zahara, S. Farm, (Calon Apoteker)
_Life-Long Learner Pharmacist_

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s