Catatan Perjalanan: Trip to Kendari ‘Care For Life’


Di penghujung tahun lalu (mentang-mentang baru masuk tahun 2012…)kami, tim medis dari BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia_red) berkesempatan untuk mengunjungi Kota Raha, Kendari. Sebuah kota yang jika dilihat di peta merupakan pulau kecil terpisah dari Kendari namun masih bagian dari Sulawesi Tenggara.

Saya sendiri sebenarnya tidak ada rencana dalam waktu dekat untuk ‘kembali’ ke luar kota apalagi yang jauh-jauh. Namun, sepertinya menyenangkan bisa masuk menjadi bagian dari tim, bepergian, bertemu dengan orang baru, dan berbagi dengan sesama. Akhirnya, dua hari sebelum keberangkatan saya ‘setengah mati’ menyelesaikan ‘tanggungan’ saya di kampus, tidur hampir larut malam terus demi menyelesaikan laporan magang apotek dan industri. Akhirnya selesai jugaaaaa…Yeayyy!!! Jadi tak ada alasan buat orang tua saya untuk melarang saya pergi ke luar kota lagi *hahahaha akal cerdik untuk merayu ortu.
Ok, biar para pembaca setia saya tidak bingung (narsis lagiiii), saya jelaskan dulu rute perjalanan perginya: tim medis yang berasal dari daerah sekitar Jogja, Solo, dan Klaten–>berkumpul di base camp BSMI Klaten–>rombongan berangkat dengan bus dengan tujuan Bandara Juanda, Surabaya–>terbang menuju Bandara Internasional Sultan Hasanudin, Makassar (buat transit)–>terbang lagi ke menuju Bandara Haluoleo, Kendari–>menyeberang dengan kapal cepat ke Raha.
Kamis, 23 Desember 2011
Nah, ceritanya pembaca budiman, tim medis yang beranggotakan sekitar 34 personil berasal dari bermacam-macam daerah, ada yang dari Jogja, Solo, Klaten, Surabaya bahkan Jakarta. Nah assembly point-nya (tempat ketemuan_red) di Bandara Juanda, Surabaya. Kami sendiri yang dari daerah Jogja, Solo, dan Klaten berangkat dari Klaten menuju Surabaya dengan bus. Alhamdulillah perjalanan malam, bisa bikin saya tidur dengan nyenyaknya, abis makan malam langsung deh tepar (Zzzzzz….). Kami sampai di Bandara lebih cepat dari perkiraan karena Pak Sopir sangat ‘bersemangat’ (baca: ngebut.com) dalam mengendarai busnya.
Jumat, 24 Desember 2011
Jam 3 dini hari, sudah terlihat ada beberapa orang yang sudah menunggu di bandara, termasuk kami (yang paling mentereng karena menggunakan rompi bertuliskan ‘Tim Medis, Indonesian Red Crescent, Bulan Sabit Merah Indonesia’).
Tim medis sendiri beranggotakan dokter umum, dokter gigi, dokter mata, perawat umum, perawat gigi, dokter bedah, dan tak ketinggalan para farmasis yang narsis abis (hahaha tak lain tak bukan adalah saya dkk). Komposisi mix dari bermacam-macam praktisi dan akademisi (setahu saya dalam rombongan juga ada Professor dari UGM). Mereka kebanyakan adalah praktisi di RSUD dan juga bekerja di klinik-klinik kesehatan gitu. Cuma farmasisnya aja yang kayaknya masih pada kuliah (3 dari 4 org farmasis masih berstatus mahasiswa profesi. Hehehe….). Semoga itu tidak menjadi kendala bagi kami untuk memberikan pelayanan terbaik apalagi biasanya kami harus mengajari anak-anak dari ilmu keperawatan yang akan membantu nantinya di bagian pelayanan apotek. Makanya saya bawa buku MIMS dan Daftar Obat Penting (farmasis juga manusia kadang khilaf…Hehehhe).

Menurut rencana, kami akan berangkat dengan penerbangan paling pagi jam 6. Jadilah kami punya waktu untuk tidur-tiduran dan bersenda gurau dulu dengan sesama rekan sambil menunggu azan Subuh. Jam 5 check in dan karena kami tinggal shalat ternyata antrian sudah panjang jadilah barang-barang kami menghalangi penumpang lain yang mw antri. Jam 6 kami sudah masuk ruang tunggu bandara dan sktr jam 6.30 pesawat take off, kami akan transit di Bandara Hassanudin, Makassar. Dan pembaca, inilah kali pertama lagi setelah ± 13 tahun saya tidak menginjakkan kaki di Makassar. Rasanya seperti flashback ke masa lalu, saat saya dan keluarga saya pernah tinggal di Makassar, dan hal pertama yang saya lakukan adalah menelepon teman kecil saya, memberitahukan keberadaan saya di sana. Rasanya sungguh luar biasa!!! Dan cuaca Makassar pagi hari itu sangat bersahabat, menyegarkan, dan merelakskan pikiran.

Saat turun pesawat di Bandara Internasional, Sultan Hasanudin, Makassar

Tetep narsis walaupun lelah, muka lusuh, belum mandi (buahahaha…)
Tak banyak waktu buat kami menikmati Makassar pagi itu, saatnya melanjutkan perjalanan menuju Kendari. Penerbangan yang akan memakan waktu sekitar 45 menit. Singkat cerita, akhirnyaaaaaa kami mendaratkan kaki di Bandara Haluoleo, Kendari. Ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di sana. Jadilah kami foto2 dulu sebelum ke luar dari bandara.


Saat pertama mendaratkan kaki di Bandara Haluoleo, Kendari
Perjalanan ternyata belum selesai sampai di sana, mantap jaya pokoknya perjalanan kami….Ternyata kami masih harus melanjutkan perjalanan dengan menyeberang. Cacing-cacing di perut sudah tak bisa kompromi, akhirnya kami mampir makan dulu, yuks makan dulu. Para lelaki tidak sholat jumat hari itu karena berkejar-kejaran dengan waktu dan sebagai pemberitahuan saja pemirsa, kapal cepat yang akan kami jadikan transportasi untuk menyeberang nanti tidak setiap jam ada. So, it means kalo ketinggalan ya pilihannya harus nunggu besoknya.
Oh ya, kami akan menyeberang dengan kapal cepat, namanya ‘Cantika’ (cantik ya nama kapalnya) dan thanks to panitia kami sudah dipesankan kelas VIP (asyyiiiikkkk alamat bisa tidur nyenyak selama perjalanan). Penyeberangan ini memakan waktu sekitar 3 jam-an karena tempat yang akan kami tuju adalah sebuah kota kecil di Kabupaten.



Suasana pelabuhan saat kami akan menyeberang (nenek moyang saya memang seorang pelaut…)
Alhamdulillah, kami pun akhirnya sampai di Kota Raha, Kabupaten Muna. Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan namun terlihat dari raut wajah kami semua menikmati perjalanan itu. Kami sampai di sana sekitar jam 6 sore dan langsung ‘beramah-tamah’ dengan pihak panitia di sana, melihat lokasi, dan briefing untuk acara keesokan hari. Muka-mukanya udah pada gak jelas karena perjalanan yang memakan waktu hampir 24 jam. Hehehe…Selesai ramah-tamah langsung deh capcus menuju hotel masing-masing. Lagi-lagi, thanks to panitia yang sudah memberikan kami fasilitas terbaik, kami dipilihkan hotel yang paling bagus di Kabupaten itu. Sungguh saya salut dengan kekompakan, sikap mereka yang ramah dan bersahabat (tidak dibuat-dibuat) dan sikap tulus mereka untuk mengurus segala keperluan kami di sana, neh saya KASIH 4 JEMPOLLLL!!!!


Sabtu, 25 Desember 2011

Bakti sosial dan pelayanan kesehatan dimulai jam setengah 7 pagi. Ternyata pasien membludak. Bismillah, ini saatnya kami memberikan pelayanan terbaik. Selalu ada cerita dalam setiap perjalanan, memberikan pelayanan, dan saya sendiri merasakan ‘kehangatan’ saat bisa memberikan ‘sesuatu’ kepada orang lain. Kami dibagi menjadi poli umum, poli gigi, poli mata, poli bedah minor, khitan, dan donor darah (ini bagiannya PMI). Ini adalah pelayanan terlama dan terbanyak pasiennya sepanjang ‘sejarah’ 2011 (hehehe lebayyyy….). Mungkin ada sekitar 3000-an pasien yang kami layani hari itu. Apalagi, kami harus acungi jempol buat para dokter, perawat, dan semua pihak di bagian khitan yang bekerja sejak jam setengah 7 pagi hingga setengah 7 malam untuk mengkhitan 600-an anak dan pemuda (kenapa saya sebut pemuda??? Hehehe karena yang tertua dikhitan sudah berumur 24 tahun….).

Saya potong ceritanya sedikit, sekedar berbagi sedikit pengalaman saya selama memberikan pelayanan di sana.

Cerita 1
Saya agak terharu ketika melayani salah seorang Bapak yang sudah tua. Ia mengeluhkan tentang penyakitnya, hipertensi, diabetes, dan penyakitnya yang lain terkait usianya yang sudah lanjut. Saya mencoba mendengarkan dengan seksama cerita beliau. Kemudian saya pun menjelaskan masing-masing obat yang diresepkan oleh dokter.
Bapak : ‘Wah obat untuk penyakit ‘X’nya gak ada ya nak?’ (Saya tahu obat itu harus lewat peresepan dokter dan digunakan secara berkala..)
Saya : (Saya melihat kembali resep yang diberikan dokter…) ‘Bapak tadi bilangnya gimana sama dokternya Pak? Sebenarnya obat-obat yang diberikan di sini begini-begitu…saya menjelaskan panjang lebar….)’ (Ternyata jawaban saya cukup menentramkan hati Sang Bapak namun ternyata saya salah menscreening resep, seharusnya obat yang diminta Bapak itu juga ikut diberikan. Maafkan saya Bapak, saya khilaf. Saya hanya takut terjadi polifarmasi-penggunaan lebih dari 2 macam obat untuk mengobati satu symptom dan bisa berakibat negatif)
Bapak : ‘Terima kasih ya Nak, semoga kebaikanmu dibalas olehNya Nak.’ (Bapak itu menyalami saya agak lama sembari mendoakan saya agar selalu mendapat kebaikan)
Setelah Bapak itu berlalu, saya membuka buku yang saya bawa dan berdiskusi sejenak dengan rekan sesama farmasis, ternyata saya seharusnya memberikan obat yang diminta oleh Bapaknya…Arrrggghhh, saya ingin menangis dalam hati, merasa bersalah sama Bapaknya, karena sebelumnya Bapak itu cerita rumahnya jauh sekali dari kota, perlu pake menyeberang segala, dan dalam bayangannya berarti juga jauh dari pusat akses pelayanan kesehatan. Maafkan saya Bapak atas kekhilafan saya, saya akan terus belajar lagi, kami hanyalah perantara dalam menyembuhkan, sesungguhnya penyembuh sesungguhnya hanya Allah. Semoga Allah memberikan kondisi lebih baik bagi kesehatan Bapak.

Cerita 2
Menjelang sore hari, pasien sudah mulai menurun yang datang dan hampir semua poli sudah tutup, begitu juga bagian apotek. Namun, khitan terus berjalan. Oleh karena itu, kami yang sudah selesai di bagian masing-masing akhirnya berduyun-duyun membantu di bagian khitan. Suasana ruang khitan diwarnai dengan suara tangis, jerit anak-anak yang takut dikhitan, bahkan ada yang ibunya ikutan menangis melihat anaknya yang meraung-raung kesakitan. Nah, ketika masuk ke dalam ruang khitan, saya sempat berkenalan dengan seorang ibu yang ternyata membawa rombongan anak-anak dalam jumlah banyak.
Saya : ‘Ibu, sedang menunggu anak ibu ya?’
Ibu : ‘Oh, ini Nak. Ibu ke sini bawa rombongan ada 16 santri dan 1 orangnya lagi anak ibu.’
Saya : ‘Wah, banyak banget Bu. Emang dari jam berapa ke sini Bu?’
Ibu : ‘Dari jam setengah 8 tadi. Tapi baru dilayani jam setengah 5 sore tadi, Nak.’
Saya : ‘Lha, kok gitu Bu. Mang ibu gak daftar dulu ya bu sebelumnya. Wuah salut deh sama ibu nunggu selama itu. ‘
Ibu : ‘Ya maklum Nak, ibu neh ke sini bawa santri dari pesantren tempat ibu mengajar. Mereka semua dari keluarga kurang mampu. Pas ada pemberitahuan akan ada pelayanan gratis ini, ibu langsung memberitahukan ke orang tua masing-masing santri ibu. Ternyata responnya positif, makanya ibu bawa aja rombongan ke sini. Eh ternyata pas ibu datang pagi tadi, katanya mereka belum daftar dan yang diutamakan khan yang daftar dulu, jadilah kami dapat giliran paling akhir. Udah sempat putus asa juga nunggunya, tapi Ibu bilang ke anak-anak, kalo rezeki kalian disunat hari ini, ayo kita tunggu sampe sore. Ibu juga gak enak sama orang tua santri Ibu soalnya.’
Saya : (tertegun…semakin penasaran). ‘Mang pesantren ibu jauh banget yah dari sini?’
Ibu : ‘Yah lumayan, mungkin ada sekitar 30-an km.’
Saya : (tweewewewwww….itu mah jauh dalam hati saya)
Ibu : ‘Makasih ya Nak, ada acara seperti ini membantu sekali buat anak-anak yang kurang mampu seperti kami ini.’
Saya : (tersenyum…)
Ternyata, hal sederhana yang menurut kita (mungkin), bisa sangat berarti buat mereka. Apalagi, melihat ketulusan hati Sang Ibu dalam membawa para santrinya, lagi-lagi membuat hati saya tersentuh. Dan cerita antara saya dan Sang Ibu pun mengalir. Dari cerita-cerita itu pun saya tahu, ternyata pesantren itu sifatnya gratis untuk anak-anak kurang mampu. Pengajarnya saja tidak digaji, untuk biaya operasional mereka dapat bantuan dari lembaga lain. Ternyata masih ada orang-orang baik di luar sana, yang memberi tanpa menuntut, mengabdi untuk berbuat baik terhadap sesama. Semoga Allah membalas kebaikanmu, Ibu!
Kegiatan pelayanan kesehatan berakhir sekitar jam 8 malam dan setelah itu, kami melepaskan penat setelah seharian memberikan pelayanan dengan ‘bergoyang poco-poco’, menyanyi, dan berfoto bersama. Sungguh suasana keakraban itu nampak jelas antara panitia dan tim medis. Beberapa momen yang sempat terekam saat penutupan acara.

Minggu, 26 Desember 2011
Inilah saatnya jalan-jalan…Sebelum saya tutup cerita ini, saya ingin memperkenalkan ‘pacar 2 malam saya’ (hahaha….alias teman gokil-gokilan saya). Kebetulan kami sekamar, sama-sama narsis, heboh, gokilnya.

Namanya Shinta, status: not available again (hahaha peace ah Shin…!!!)



Kami sempat berjalan-jalan ke pantai di mana kalau pagi hari orang-orang pada bakar ikan dan langsung makan di tempat. Saya sendiri yang tidak suka ikan, melihat ikan-ikan yang habis ditangkap langsung dibakar sendiri, tergoda juga untuk mencicipi. Jadi, cara mereka makan ikan-ikan yang habis dibakar dimakan bersama ‘lapa-lapa’ namanya yang isinya beras merah trus dimakan pake sambal yang maknyus (sambelnya itu loh, wuah mantep rasanya pedas, kecut, ada rasa cuka-cukanya gitu, jadi pedasnya menggigit tapi segar tenan….bau amis si ikan jadi ilang). Dan makanya orang sana, tulangnya kompak-kompak, karena suka makan ikan dan makan beras merah yang notabene kedua-duanya gizinya tinggi banget. Dan makanya pula, dokter gigi dan perawat gigi harus ekstra kerja keras untuk mencabut gigi-gigi mereka, karena tulangnya T.O.P B.G.T!!!
Saatnya pulaaaaanggggggggg…..Alhamdulillah keseluruhan acara berjalan lancar, kami, seluruh tim medis mengucapkan terima kasih banyak untuk semua panitia yang sudah mendatangkan kami ke sana.
Saatnya bernarsis-narsis. Neh foto-foto menjelang kepulangan kami. Oh ya, pembaca, kami pulangnya kali ini gak lewat Surabaya lagi loh. Langsung dari Kendari–>Makassar–>Jogja…

Kenarsisan kami berfoto di Bandara Haluoleo, Kendari bersama foto Pak Gubernur

Sampai jumpa Kendari, kami pulang dulu yah….Semoga lain kali diberi kesempatan lagi ke sana

Berfoto di salah satu sudut Bandara Hasanudin, Makassar

Pengen deh foto kayak Shinta, di depan perahu phinisi. Bagus yah (perahunya loh Shin…Wkwkwk)
Ok, cukup sekian dulu catatan perjalanan kali ini. Sebenarnya masih banyak yang pengen diceritakan karena masih ada kisah-kasih di balik perjalanan ini. Hahahaha, tampaknya biar pembaca gak bosan saya sudahi dulu saja. Daaggghhhh…nantikan cerita perjalanan berikutnya!!!

4 thoughts on “Catatan Perjalanan: Trip to Kendari ‘Care For Life’

    • @Lhina: Ahhh gak juga, cuma kalo lagi iseng, lagi pengen nyalurin yg ada di otak aja…Ayo, latihan nulis. Resepnya harus dimulai aja…Mba jg dulu awalnya gitu, tapi lama2 jd ketagihan, gatel tangan klo lama gak nulis…Hehehhe

  1. Krenn ka chacha ,, jujurr pengalamann yang palingg menarikk , mencoba memberanikann diri gabung walauu cuman dikit yang akuw kenal kk anggota BSMI nya , ituwpun akrabnyaa sebagian lwt jejaringan sosial ,, tapii alhamdulillah semua kaka2 BSMI nyaa welcome ma kami ,, makasii yaa ,, kami mendapatkan pengetahuann baruu ,, hehehe ,, Alhamdulillah dengan niat Yang Tulus Semua Kegiatan Berjalan Lancar ,,
    moga bisa bertemuu lagii🙂

  2. @Titaaa: Asyyiikk gitu donk harus memberanikan diri emang, anak2 BSMI asyik2 semua loh Tha, dari mulai Bapak2, Mbak2, Mas2nya. Jangan sungkan kalo mau tanya apapun. Alhamdulillah, mb jg bljr banyak pas bnyk terjun ke lapangan (baca: pas memberikan pelayanan kesehatan langsung). Trus bljr yah. Semoga bs ktmu lain waktu, lain kesempatan🙂 Senang jg bisa kenal Tita, Lina, dkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s