Setahun Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi


Hari ini tidak banyak pemimpin yang bisa mengatakan dengan percaya diri, “I have served my country! Saya pernah berada di pelosok negeri mengabdi untuk bangsa ini”. Begitulah kira-kira kata Bapak Anies Baswedan-pendiri Indonesia Mengajar saat Roadshow Gerakan Indonesia Mengajar di UGM baru-baru ini. Melalui acara tersebut Bapak Anies juga mengajak kami semua yang hadir memaknai ‘Mencerdaskan kehidupan bangsa’ sebagai sebuah JANJI KEMERDEKAAN tidak hanya CITA-CITA bangsa ini. Mengapa? Karena janji adalah sesuatu yang harus dilunasi, beda halnya dengan cita-cita yang entah bisa terwujud atau tidak.

Apa itu Indonesia Mengajar?

Bagi yang pernah membuka website http://www.indonesiamengajar.org tentulah tahu gerakan apa itu, filosofi mengapa perlu ada gerakan ini, dan visi-misi ke depannya. Saya sendiri mengartikan gerakan ini merupakan gerakan yang dilandasi niat mulia untuk mengatasi salah satu permasalahan pendidikan di Indonesia. Saya sebut salah satu permasalahan karena memang kalau dirunut permasalahan di bidang pendidikan kita banyak sekali. Sungguh tak etis jika kita hanya menyalahkan bahkan mengolok-ngolok pemerintah mengapa permasalahan tersebut tak kunjung selesai. Saat ini kita dihadapkan pilihan “Menyalahkan atau Menyalakan” (Curse the Darkness or Light the Candle). Dan untuk hal ini saya setuju dengan Pak Anies mari kita “Menyalakan”, TAKE ACTION NOW!

Lebih lanjut, Beliau mengatakan salah satu permasalahan pendidikan di Indonesia adalah guru baik kualitas maupun distribusinya. Menurut data statistik tingkat kekurangan guru yakni 21 % sekolah di perkotaan, 37 % di pedesaan, dan 60 % di kota terpencil. Belum lagi kualitasnya yang masih dipertanyakan. Namun lagi-lagi sungguh tak etis memandang rendah guru-guru Anda dahulu yang Anda anggap tidak berkualitas. Bukankah kita bisa sekolah tinggi sampai SMA bahkan beruntung mengenyam pendidikan tinggi sampai Universitas berkat jasa-jasa Beliau?

Mengadopsi PTM

Sebenarnya dulu ada gak sih gerakan serupa? Beliau menceritakan bahwa sebenarnya gerakan ini dahulu sudah ada dengan nama PTM, yakni program pengiriman guru untuk mengajar ke wilayah-wilayah terpencil di Indonesia. Ok belajar sejarah sedikit yah! Bukankah Bangsa yang Besar, Bangsa yang Mau Belajar Sejarah dari Masa Lalu?

Kelahiran Program PTM tahun 1952 telah membawa perubahan besar bagi pendidikan di Indonesia. Pada tahun 1950-an, pemerintah mendirikan SMA-SMA hampir di tiap kabupaten. Jumlahnya saat itu sekitar 150. Kemudian tahun 1960-an terjadi lonjakan jumlah mahasiswa dari kelas menengah ke bawah yang tadinya tentu saja tidak semua masyarakat kebanyakan bisa mengenyam pendidikan tinggi. Tahun 1970-an para lulusan memasuki lapangan pekerjaan yang masih terbuka. Perkembangan yang sangat pesat terjadi pada tahun 1980-an yakni munculnya golongan terdidik dari kelas menengah-bawah di Indonesia dari segala strata sosial yang sebelumnya hanya dari golongan aristokrat. Dampaknya kita rasakan sampai saat ini. Sejak saat itu, pendidikan diyakini dapat menjadi akselerasi untuk meningkatkan strata sosial seseorang.

Lalu, siapa yang pertama kali mencetuskan ide adanya PTM? Wah, buat anak UGM patut berbangga neh ternyata pencetusnya salah satu Rektor UGM, Bapak Koesnadi Hardjasoemantri. Beliau dengan 8 rekan beliau pada tahun 1952 pergi ke Kupang untuk mengajar ketika mereka belum lulus dari UGM membawa 3 orang anak SMA untuk melanjutkan kuliah di UGM. Tahukah Anda, ketiga orang tersebut saat ini telah menjadi orang-orang penting semua, Gubernur Bank Indonesia, Rektor Universitas Sarjana Wiyata, dan satu lagi saya lupa (hehehe…). Subhanallah!!! Sejak itu, semakin banyak mahasiswa UGM yang akhirnya melaksanakan PTM di wilayah-wilayah lain di Indonesia. Salah satu kisah nyata, seorang mahasiswa UGM mengabdikan hidupnya untuk mengajar di Gorontalo dan memutuskan untuk hidup di sana, MENGABDI dan MENGINSPIRASI! Hasilnya sangat memuaskan semakin banyak anak-anak dari daerah sana yang bersekolah tinggi dan mereka dengan bangga mengatakan itu adalah jasa seseorang yang pernah mengabdi di sana. Tak ada perjuangan yang sia-sia jika dilandasi niat mulia!

Tentang Indonesia Mengajar

Indonesia Mengajar percaya bahwa kualitas pendidikan berkaitan erat dengan kualitas tenaga pengajar. Oleh karena itu, generasi muda yang direkrut pun menurut saya adalah orang-orang terpilih. (Silakan liat website-nya untuk mengetahui kriteria calon pengajar muda!). Sebagai catatan, Pak Anies mengatakan kriteria tersebut tidak mutlak namun IM mencari orang-orang cerdas & terdidik yang memiliki motivasi tinggi, berdedikasi tinggi terhadap pendidikan, dan tahan banting. Bagaimana tidak, mari kita simak kisah mereka. Salah satu pengajar muda angkatan I, lulusan ITB dan sudah diterima di BCG (Boston Consulting Group), salah satu lembaga konsultan ternama. Ketika ia sudah dinyatakan diterima di sana, ia memilih untuk menjadi Pengajar Muda dan meninggalkan kesempatannya untuk masuk BCG. Sungguh keputusan yang tak mudah. Cerita lain lagi, salah satu pengajar muda lainnya ia telah bekerja di sebuah perusahaan ternama di Singapura dan telah bergaji dengan hitungan dollar. Namun ia berani meninggalkan zona nyamannya dan menjadi guru di pelosok negeri ini. Lalu, beranikah kita, saya, Anda untuk meninggalkan zona nyaman kita untuk mengabdi seperti mereka?

Lalu, berapa lama Pengajar Muda akan mengabdi di daerah? Pak Anies mengatakan cukup 1 tahun walaupun bisa paling lama 2 tahun. Mengapa? Karena diharapkan mereka, orang-orang terpilih yang menjadi Pengajar Muda dapat meniti karier di bidang masing-masing dan menjadi orang berpengaruh di bidang masing-masing. Kemudian, 10-20 tahun ke depan Anda bisa kembali untuk menginspirasi dan memberi role model bagaimana pentingnya pendidikan dalam mengubah pendidikan. Kabar baiknya sebentar lagi akan dibuka untuk Pengajar Muda Angkatan ke-2. Jika pada angkatan I hanya 51 orang, untuk angkatan ke-2 ini dibuka untuk Pengajar Muda dalam jumlah lebih besar walaupun Beliau belum bisa mengatakan jumlah pastinya. Namun, kesempatan untuk berkarya, mengabdi, menginspirasi tentunya tidak hanya terbatas di sini. Jangan berkecil hati jika belum diterima! Toh tersedia kesempatan luas untuk berkarya di mana saja, kapan saja, di bidang apa saja yang Anda minati.

Tulisan lama saya, namun saya rasa cukup layak untuk diposting kembali. Tahun ini, alhamdulillah atas kesempatan yang diberikan olehNya, saya berkesempatan untuk berkeliling-keliling Indonesia, memasuki wilayah-wilayah yang terkadang jauh dari jangkauan akses informasi, pendidikan, kesehatan, dan segala keterbatasan. Dan itu cukup membuka mata saya, ternyata ‘ketimpangan’ itu memang ada dan terjadi di negeri saya sendiri, negeri yang katanya melimpah sumber daya alam, GDP-nya sudah semakin membaik namun kenyataan di lapangan terkadang berbicara berbeda. Begitu pula dengan akses pendidikan dan kesehatan (dua hal yang saya amati), saya ‘angkat topi’ dengan orang-orang yang bersedia ‘mengorbankan’ waktu dan semuanya untuk mendidik anak-anak di pelosok negeri. Semoga program ini merupakan awalan yang baik untuk munculnya program-program serupa di daerah-daerah. InsyaAllah selalu ada pemuda-pemudi yang bersedia menjadi motor penggerak.


Bapak Anies Baswedan, pelopor Indonesia Mengajar

4 thoughts on “Setahun Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s