Gender in Equality


Menarik memang tema di atas untuk dibahas (setidaknya menurut saya). Berawal dari keikutsertaan saya dalam sebuah conference berjudul Australian-Indonesian Youth Leadership Conference on Hearts and Minds: Future Leadership and the Challenges of Diversity, saya semakin tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang gender dan ‘tetek bengeknya’. Mungkin juga karena saya seorang wanita. Saya pun merasa miris ketika melihat “kaum saya” diperlakukan tidak adil, sewenang-wenang, dan mungkin masih banyak yang diperlakukan sebagai “kelas kedua” setelah kaum pria tentunya. Dan lagi-lagi membicarakan masalah ini pasti selalu dikaitkan dengan gender.

Walaupun masih banyak yang menanyakan kepada saya, ketika saya akan menulis tentang gender. What is the different between gender and sex? Hmm…di sini saya tidak akan membahas tentang itu, so cari sendiri di literatur ya…:)

Dalam acara dialog Australian and Indonesian Youth, setiap peserta berkesempatan untuk memilih tema yang dia sukai. Tanpa pikir panjang, saya pun langsung memilih diskusi tentang gender in equality. Diskusi yang berjalan sekitar 1 1/2 jam berjalan cukup seru. Dari beberapa orang yang hadir kami dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok 1 membahas tentang women in leadership and the barrier sedangkan kelompok 2 membahas tentang opportunity gender equality and the strategic. Saya sendiri berada di kelompok 2. Diskusi tersebut berjalan cukup hangat walau sangat sebentar. Kesimpulannya memang masih banyak pro-kontra ketika wanita menjadi seorang leader. Apalagi menurut Al-Quran surat An-Nisa ayat 34, pemimpin itu berasal dari kaum pria (maaf kalau salah menafsirkan dikarenakan masih dangkalnya ilmu saya tentang agama). Namun faktanya sudah banyak wanita yang menduduki puncak kepemimpinan dan mereka berhasil.

Saya pribadi, sangat senang ketika melihat banyak wanita yang bisa menjadi pemimpin. Namun, tentunya sesuai fithrahnya wanita adalah seorang ibu, sosok yang paling dekat dengan anak-anaknya dan diharapkan dapat memberi teladan bagi mereka. Perlu dipertimbangkan, bagaimana output anak-anak yang ibunya pekerja yang sangat sibuk di luar dan anak-anak yang mendapat perhatian penuh dari sang ibu? Jawaban ada di tangan Anda para wanita.

Dari keluargalah, peradaban dimulai.
Dari keluargalah, generasi hebat akan lahir.
Dari keluargalah, pemimpin hebat akan lahir.

Tentu saja, pembahasan gender tidak hanya tentang hal di atas. Oleh karena itu, sekarang saya sedang mencari ‘wadah’ yang tepat untuk bergabung, entah itu LSM atau semacam Pusat Studi Wanita (PSW). Memang, pernah saya diminta jadi ‘pemandu’ untuk mengunjungi PSW UGM, menjadi pemandu diskusi dalam sebuah kegiatan summer school di UGM. Lagi-lagi, kunjungan itu tidak memuaskan keingintahuan saya. Oleh karena itu, jika pembaca yang budiman ada yang punya usul LSM atau apa lah yang bergerak di bidang perjuangan, pergerakan, dan pemberdayaan wanita, mohon disharekan infonya ya!

2 thoughts on “Gender in Equality

    • Hai Tuaffi…
      Iya masing2 org boleh pny pendapat. Saya sndr krn ilmunya msh dangkal jd ga bs jg dblg klo beraliran feminis atau apapun namanya itu.
      Hanya saja saya pengen liat kaum wanita bs lbh berdaya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s