Edisi Curhat: Sisi Positif Menonton Film Melankolis


Sebenarnya tidak ada niatan untuk memposting tulisan ini, hanya saja saya cukup surprised dan sebal ketika adik kos saya berkata kepada saya ‘Ya ampun Mbak, mba gak nangis juga pas adegan yang itu (adegan salah satu film Korea yang kami tonton_red). Ih Mba Cha-Cha gak punya perasaan apa’ . Jreng jreng jreng….apa maksudnya ini??? Baiklah, saya akan bahas juga mengapa saya akhirnya (sedikit menyukai) menonton film-film melankolis.
Mengasah Otak Kanan: ‘Berlatih Empati & Simpati’
Dalam salah satu buku Ippho Santosa, 13 Wasiat Terlarang tentang bagaimana mengasah otak kanan, saya menemukan salah satu cara efektif untuk mengasah empati dan simpati adalah sesekali ambil waktu untuk menonton film-film bergenre kasih sayang, drama, atau bertema melankolis. Untuk saya, ini merupakan cara efektif untuk mengasah ‘sisi kewanitaan’ saya seperti kelemah-lembutan, sisi sensitif, terharu, dan bisa ikut merasakan kesedihan, kegembiraan yang dialami orang lain. Saya sendiri menonton film-film itu hanya sekali-kali, ketika penat setelah ‘bersibuk-sibuk’ ria atau jika sedang kesepian (baca: jablai). Namun, lagi-lagi ternyata saya tipe wanita yang lebih suka menggunakan analisa & akal daripada emosi, jadi kalau alur ceritanya sudah monoton atau ceritanya sudah terlalu ‘lebay’ mulailah saya dan mba kos saya (yang setipe dengan saya) berkomentar ini-itu, menunjukkan ketidaksetujuan kami bagaimana si aktor/aktris yang bermain peran tidak bersikap realistis. Hahaha, jadilah kami sebagai ‘kaum minoritas’ yang suka mengganggu ‘kesyahduan’ teman-teman kos lain yang sedang berderai air mata (hahahaha….I’m sorry, just in case the story is not realistic). Saya ambil contoh, ada film yang saya tonton sampai 3 kali baru saya mengerti kenapa teman adik kos saya sampai sesenggukan ketika selesai menonton film itu. Apalagi dia menontonnya ketika ada masalah sama pacarnya (pantesss…). Dalam hati saya, siapa suruh abis patah hati kok nonton film mellow-mellow, ya iyalah tambah merasa paling ‘merana’ sedunia-lah kalau gitu (jahat??? Gak ah, realistis aja).
Belajar Tanpa Harus Mengalami Sendiri
Saya senang menonton film-film seperti itu dengan mba kos saya yang usianya 3 tahun di atas saya, yang sudah cukup dewasa menurut saya dalam mengambil tindakan, bukan hanya bertindak atas dasar perasaan. Jadi, setelah menonton biasanya kita merangkum intisari hikmah apa yang bisa kita ambil dari film itu. Dan kami sering menilai apakah film itu bagus atau tidak (hehehe… maksud saya di sini dilihat dari ‘nilai’ yang bisa diberikan lewat film tersebut). Saya termasuk penggemar film-film drama keluarga dan saya rasa bisa banyak belajar bagaimana memanage konflik keluarga dan lika-liku dalam sebuah keluarga lewat sebuah film, tanpa harus mengalami ‘konflik’ seperti itu. Terkadang, malah saya bertukar pikiran dengan mba kos saya itu dan meminjam buku-buku terkait psikologi keluarga, mendidik anak, dan buku-buku terkait berawal dari rasa penasaran dan keingintahuan setelah menonton film dan diskusi bersama mba kos.
Mengendurkan Syaraf, Merelakskan Pikiran, dan Merefreshkan Mata
Melihat tingkah polah pemain-pemainnya yang terkadang konyol, tentu bisa mengundang tawa yang akhirnya bisa mengendurkan urat-urat syaraf yang kaku. Apalagi kalau nontonnya sama teman-teman, tertawa bersama dan bersenda gurau bersama kawan tentu bisa merelakskan pikiran. Percaya atau tidak, dalam sebuah penelitian yang saya baca artikelnya dari Yahoo, tertawa dan berkumpul bersama teman-teman dapat merelakskan pikiran dan membuat hidup lebih panjang. Nah yang terakhir, merefreshkan mata, hehehe…tidak munafik, saya juga suka melihat pemain-pemain, aktor maupun aktris yang ‘segar’ dilihat mata, berpenampilan menarik, dan nyaris sempurna (yah you know lah kebanyakan mereka operasi plastik). Saya heran, kok cowok-cowoknya bisa manis-manis begitu?!?!?!?! Untung saya penggemar pria-pria macho, hitam manis (hahahaha mulai gak nyambung…).
Baiklah pembaca budiman, tulisan saya sepertinya sudah mulai kesana kemari. Hahaha biarkanlah, karena saya sedang ingin menulis abstrak dan spontan! Jadi saya mau katakan terutama sama adik kos saya itu (hahahaha peace!!!), saya masih punya perasaan dan kesensitifan khas wanita hanya saja ketika ada moment yang pas dan tentunya masuk akal dan logika saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s