Hegemoni di Tubuh Media Massa


Dalam konteks global, masyarakat kini dikenal sebagai masyarakat informasi. Sebuah masyarakat di mana informasi menjadi suatu hal yang sangat esensial karena ia sangat berpengaruh di dalam kehidupan manusia.
Saat ini, dengan adanya kemajuan teknologi komunikasi massa, media massa pun telah sangat maju. Media telah ikut campur tangan dalam kehidupan kita secara lebih cepat daripada yang sudah-sudah dan juga memperpendek jarak antara bangsa-bangsa. Ada berbagai macam ruang di mana manusia dapat saling berkomunikasi, memperoleh informasi, dan menyebarkan informasi. Media massa yang merupakan saluran formal bagi masyarakat semakin berkembang dengan lahirnya ruang-ruang cyber yang tidak lagi tunduk dengan ruang dan waktu.
Media-media cyberspace tersebut membuat media massa tumbuh menjadi lebih variatif. Informasi disalurkan melalui berbagai macam media yang lebih beraneka ragam. Saluran informasi tidak lagi didominasi oleh lembaga atau institusi resmi saja tetapi juga personal. Namun arus homogenisasi yang dibawa arus globalisasi seakan membuat media massa saat ini menjadi seragam, seakan pikiran kritis mereka telah tunduk pada pasar.
Fenomena lain yang dapat kita saksikan di masyarakat bahwa media massa telah mengambil alih beberapa fungsi sosial manusia (masyarakat). Kini, media tidak hanya sebatas alat informasi saja, namun ia juga dapat membentuk tren dan pola berpikir masyarakat. Sekarang ini eksploitasi pers dan media interaktif telah menuju ke arah penciptaan supremasi media yang mengancam keberadaan cara pandang objektif dan ruang publik. Hal ini sesuai dengan pandangan teori hegemoni; peran media bukan lagi sebagai pengawas (watchdog) pemerintah, tetapi justru menopang keberadaan kaum kapitalis dengan menyebarkan pemikiran-pemikiran mereka. Di dalam masyarakat kapitalis, kepemilikan faktor-faktor produksi yang memadai tidak akan menjamin keberhasilan dalam suatu persaingan karena sistem dunia saat ini telah dipenuhi oleh berbagai spekulasi dan pertarungan strategi. Oleh karena itu, dalam hal ini informasi memegang peranan penting sebagai sebuah strategi yang tepat untuk memenangkan persaingan.
Melihat kebutuhan informasi yang semakin meningkat tersebut, menyebabkan banyak media yang bermunculan di tengah-tengah masyarakat. Namun sayangnya, kemunculan itu tidak disertai dengan tanggung jawabnya terhadap masyarakat. Realitas yang disuguhkan oleh media massa seakan hanya menjadi realitas semu. Realitas fiktif yang dapat menggiring masyarakat pada image tertentu. Realitas tersebut tentunya telah dimuati oleh suatu kepentingan. Surat kabar, majalah, dan televisi menciptakan peristiwa, menafsirkannya, dan mengarahkan terbentuknya kebenaran. Dalam hal ini, media massa seperti telah kehilangan nilai obyektivitasnya. Nilai obyektivitas yang seharusnya dijunjung tinggi oleh media massa dikesampingkan demi pasar, persaingan, atau kepentingan suatu pihak. Sungguh menyedihkan bukan!
Oleh karena itu, sudah seharusnya media massa menjaga akurasi, keseimbangan, dan melakukan self cencorship (sensor diri). Dengan cara seperti itu, diharapkan kesalahpahaman antara pemerintah, masyarakat, dan dengan media massa bisa diatasi. Hal ini disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam acara pertemuan dengan pimpinan media massa di Istana Negara. Untuk mewujudkan hal tersebut, tentunya harus ada yang mengawasi media massa. Lalu siapa yang seharusnya mengawasi media massa tersebut? Tentu saja, masyarakat harus ikut terlibat dalam mengontrol media massa tersebut, salah satunya melalui media watch. Makin banyak pihak yang mengawasi, makin baik tampilan yang diawasi. Sesama pengawas juga akan meningkatkan mutunya. Tentu saja, hal ini membantu individu menjadi melek media.

* Istilah hegemoni berasal dari bahasa Yunani, egemonia, yang artinya penguasa atau pemimpin. Dalam pengertian yang ringkas, hegemoni dapat diartikan sebagai sistem kekuasaan atau politik kelas dominan untuk menguasai kelas di bawahnya dengan menggunakan kekuasaan itu. (Mujibur Rohman, 2008). Dari pengertian tersebut, hegemoni dapat menjelaskan fenomena terjadinya upaya pelanggengan kekuasaan oleh kelompok penguasa dan kelompok-kelompok lainnya juga. Tujuannya adalah menguasai wacana publik terhadap kelompok yang didominasi sehingga diterima sebagai sesuatu yang wajar (common sense).
Silakan membaca tulisan ini lebih lanjut di HEGEMONI DI TUBUH MEDIA MASSA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s