Peran Strategis Investasi Sosial Perusahaan Jangka Panjang


Selama ini, perusahaan dianggap sebagai biang rusaknya lingkungan, pengeksploitasi sumber daya alam, dan hanya mementingkan keuntungan semata. Kebanyakan perusahaan selama ini melibatkan dan memberdayakan masyarakat hanya untuk mendapat simpati. Program yang mereka lakukan hanya sebatas pemberian sumbangan, santunan dan pemberian sembako. Dengan konsep seperti ini, kondisi masyarakat tidak akan berubah dari kondisi semula, tetap miskin dan termarginalkan. Namun, belakangan muncul perkembangan baru seiring denganmenyebarluasnya gagasan mengenai tanggungjawab social perusahaan (Corporate Social Responsibility). Tanggungjawab sosial memberikan konsep yang berbeda di mana perusahaan dapat mengintegrasikan kepeduliannya terhadap masalah sosial dan lingkungan ke dalam kegiatan usaha mereka dan juga ke dalam cara-cara perusahaan berinteraksi dengan stakeholder perusahaan. Tentunya, semua hal itu dilakukan secara sukarela. Dalam aktivitasnya, setiap perusahaan akan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Akibat dari interaksi itu tentu saja menuntut adanya timbal-balik antara perusahaan dan lingkungan sosialnya yang berimplikasi pada timbulnya dampak-dampak sosial atas kegiatan operasi perusahaan pada lingkungannya. Sepanjang perusahaan menggunakan sumber daya manusia dan komunitas yang ada, maka perusahaan memiliki tanggungjawab untuk menghasilkan profit dan mengembalikan sebagian profit tersebut bagi masyarakat. Apalagi, saat ini di kalangan sebagian dunia usaha, sudah tumbuh pengakuan bahwa keberhasilan ekonomi dan finansial mereka berkaitan erat dengan kondisi lingkungan dan sosial di wilayah-wilayah di mana mereka beroperasi. Meskipun belum menjadi arus utama dalam pola pikir perusahaan, namun makin banyak perusahaan yang memberi perhatian terhadap “Tanggungjawab Sosial Perusahaan” tersebut. Bahkan perusahaan-perusahaan tersebut menganggarkan anggaran khusus guna menjalankan aktivitas dan tanggungjawab sosialnya kepada masyarakat dan lingkungannya. Untuk mewujudkan tanggungjawab semacam itu, dunia usaha diharapkan memperhatikan dengan sungguh-sungguh tiga dimensi berkelanjutan yakni lingkungan hidup, ekonomi dan sosial-yang juga dikenal dengan “triple bottom line”. Beberapa perusahaan internasional telah mengadopsi pemikiran tersebut, setidaknya dalam slogan kampanye perusahaan mereka. Oleh karena itu, sudah saatnya Corporate Social Responsibility jangan dianggap sebagai beban yang membengkakkan pengeluaran perusahaan tetapi harus dianggap sebagai investasi yang akan menguntungkan bagi keberadaan perusahaan di masa mendatang. Lebih jauh lagi, Corporate Social diharapkan dapat ikut berperan dalam pembangunan berkelanjutan sebagai salah satu upaya mempercepat penanggulangan kemiskinan dan masalah-masalah social lainnya. Apalagi menurut penelitian yang diadakan PIRAC (Public Interest Research and Advocacy) terhadap sejumlah media selama tahun 2001, sumbangan sosial perusahaan mencapai Rp. 115 Milyar (perusahaan MNC=Rp. 79,1 Milyar, Nasional=Rp.30,2 Milyar, dan lokal=Rp. 6 Milyar) sebagai sebuah potensi yang sangat signifikan bagi agenda pemberdayaan masyarakat. Hal ini berarti menuntut komitmen yang serius dari berbagai pihak terkait (stakeholder) demi keberhasilan pelaksanaan CSR.

 

CSR bukan lagi dianggap sebagai beban yang memberatkan perusahaan namun ternyata memiliki peran strategis sebagai investasi sosial perusahaan jangka panjang. Untuk lihat lebih lengkap tulisan di atas, silakan download di Karya Tulis Shell-PDF.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s