Oh Papa…Saya Rindu!!!


• Saya agak lupa 1 atau 2 tahun lalu, setelah kurang lebih 2 atau 3 tahun tidak bertemu dengan orang tua, tentu perasaan ‘kangen’ saya membuncah. Bayangkan sudah 3 kali lebaran saya gak pulang-pulang ke rumah (kayak Bang Thoyib aja ya…). Dan, teng teng Papa akhirnya menyempatkan diri ke Jogja untuk menghadiri pernikahan saudara saya di sini. Wah senangnya bukan main! Saya dan saudara sepupu menjemput papa di bandara, selama perjalanan menuju bandara perasaan dah ‘deg-degan’, di mobil saya melihat terus ke arah arloji, takut kalau papa harus menunggu lama di bandara. Ternyata, pesawatnya di-delay…agak melegakan tapi gelisah juga menunggu. Saking gelisahnya, saudara saya sempet bilang ‘Haduh kamu kenapa seh, gelisah bener, kayak mau ketemu siapa gitu!!!’ Saya hanya tersenyum simpul, dalam hati saya waktu itu ‘Yeah, kakak seh gak ngerasain gmn rasanya lama gak ketemu orang tua’. Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang, langsung tersenyum lebar. Belum selesai sampai di sana, setelah beberapa hari di Jogja, tibalah saatnya papa pulang lagi ke Kalimantan. Hari itu, karena ada kuliah dan praktikum yang tidak bisa ditinggal akhirnya saya tidak bisa mengantar papa ke bandara sore harinya, jadilah saya menginap di tempat saudara dan pamit pagi harinya. Wah semoga tulisan saya di blog ini tidak dibaca oleh papa (malu deh kalau ketahuan…), sepanjang perjalanan dari tempat saudara saya ke kosan, saya menangis, awalnya pas pamitan cuma meneteskan air mata aja, lama-lama kok jadi deras yah, walhasil di jalan hampir menabrak orang gara-gara saya mengendarai motor dengan kecepatan sangat tinggi sambil menangis (jangan ditiru karena membahayakan jiwa Anda dan orang lain. Hahaha…)
• Jaman SMP dan SMA dulu, saya sering mengikuti dan menjadi perwakilan untuk lomba baca puisi, pidato, debat, dan kepenulisan. Salah satu guru dan motivator terhebat saya dalam bidang ini adalah papa. Tapi sayangnya, saya tidak pernah mau dilihat papa jika sedang lomba karena pasti langsung ‘down’ dan ‘gugup setengah mati’. Pernah suatu kali, papa ternyata diam-diam menyaksikan ketika lomba pidato bahasa Inggris se-SMA di Samarinda, untung saya gak tahu. Dalam lomba itu, saya berhasil meraih juara 1 untuk kategori puteri. Sesampainya di rumah, papa dengan ekspresi datar bilang ‘Tadi papa datang loh pas penampilan kamu, selamat yah, jangan puas dulu karena performa kamu belum maksimal!’ Begitulah papa, tak serta merta memuji namun kata-katanya yang terkadang ‘nyelekit’ membuat saya semakin terpacu.
• Sejak SMP, saya dan adik saya diwajibkan untuk menekuni beladiri. Kami diminta memilih beladiri apapun, yang pasti tujuannya agar kalian bisa ‘beladiri’ kalau diganggu orang. Akhirnya, saya dan adik saya memilih taekwondo. Semakin tinggi sabuknya, semakin berat ujiannya. Ketika ujian naik ke sabuk merah, saya merasakan paling berat ujiannya. Menjalani 3 tahap ujian tentu tak mudah, mulai dari ujian gerakan dan rangkaian gerakan (tae geuk); ujian fisik (lari 2,4 km 5 kali, sit up, push up yang hitungannya ribuan, dkknya); sampe ujian mental. Nah pas ujian mental ini, intinya kami diminta bagaimana untuk survive hanya berbekal diri dengan memakai baju latihan (dobok) tanpa memakai alas kaki dan entah bagaimana caranya harus sampe ke Samarinda dengan rute: Kutai Barat–>Kutai Kartanegara–> ke Samarinda kota dengan selamat (Nah loh, gak usah dibayangin….hehehe!) Setelah rangkaian ujian selesai, saya sempat cerita ke papa dengan tujuan buat ‘bermanja-manja’ gitu, ‘Pa, kemarin pas kenaikan sabuk itu, pas ujiannya Cha-Cha sempet diikutin sama orang asing gitu, cowok, nakutin banget deh Pa, apalagi di kampung itu banyak anjing hutannya, haduh serem banget deh’. Eh Papa malah ketawa-ketawa dan tidak berkomentar apapun. Arrrrghhhh sebel, dalam hati saya ‘Haduh sekali-sekali kek saya dikhawatirin, khan saya anak cewek’. Papa hampir tak pernah menampakkan rasa khawatirnya ke saya tapi sebenarnya saya tahu dalam hatinya, papa sangat khawatir kalau terjadi apa-apa dengan saya.
• Keisengan saya yang lain, saya membuka-buka folder di laptop papa. Tidak sengaja, saya menemukan folder di mana isinya kumpulan foto saya di FB dan saya lihat dalam tiap foto itu ada note-nya, for example neh, my beautiful daughter, my beloved daughter. Wah saya terharu, diam-diam papa ‘memperhatikan’ dari jauh walaupun ‘tanpa kata’.
• Papa adalah ‘teman ter-OK’ kalau untuk urusan debat dan berbagi pendapat tentang banyak hal. Makanya tak jarang saya dan papa di meja makan sering membicarakan banyak hal, dari mulai masalah politik, ekonomi, kefarmasian, perkuliahan, rencana masa depan, hingga prinsip-prinsip kehidupan. Tak jarang pula, kami tak sependapat dan bersepakat untuk tidak sepakat. Namun, saya tetap ‘gadis kecil’ papa yang terkadang sudah ‘merasa’ dewasa dan ‘sok’ merasa lebih mengerti but believe in me I always listen to you…

Dan malam ini, entah mengapa saya sangat rindu dengan kehadiran papa. Banyak hal yang tak bisa saya ungkapkan langsung, tapi semoga doa saya dalam tiap sujud panjang untuk papa (dan juga mama) ‘sampai’ kepadaNya. Lihatlah papa, sekarang saya sudah tumbuh menjadi wanita dewasa. InsyaAllah akan saya jaga kepercayaan papa selama ini. I have to say, I’M PROUD TO BE YOUR DAUGHTER! I LOVE YOU..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s