Pendidikan Profesional Kesehatan Terintegrasi: ‘Saatnya Mahasiswa Farmasi Mengambil Peran’


Paradigma lama mahasiswa sebagai obyek di institusi pendidikan sudah tentu tak relevan lagi dengan sistem pendidikan kesehatan saat ini. Sesuai dengan kompetensi tenaga profesional kesehatan yang visioner di abad 21 mahasiswa kesehatan dituntut untuk mengambil bagian secara aktif (subyek). Tak hanya itu, mahasiswa pun diajak untuk memahami pentingnya sinergisitas antarprofesi kesehatan yang dibangun sejak masa pendidikan di perguruan tinggi. Sejalan dengan hal tersebut, delapan organisasi mahasiswa kesehatan yang mewakili tujuh profesi kesehatan mengadakan pre-conference Indonesian Health Professional Student Summit: Students’ Role in Health Professional Education yang pertama kali di Indonesia. Acara yang diadakan pada tanggal 19 November 2010 ini bertempat di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Acara ini didukung sepenuhnya oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) melalui Health Professional Education Quality (HPEQ) Project. Hal ini disampaikan oleh Dr. dr. Arsitawati Puji Raharjo, MAHM, Staf Khusus Dirjen Dikti Bidang Kedokteran dan Kesehatan. Delapan organisasi mahasiswa yang mendukung acara tersebut, yaitu Center for Indonesian Medical Students’ Activities (CIMSA), Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI), Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia (ILMIKI), Persatuan Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia (PSMKGI), Ikatan Mahasiswa Kebidanan (IMABI), Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia (ISMAFARSI), Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (ISMKMI), dan Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Gizi Indonesia (ILMAGI).

Mahasiswa dan pendidikan merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Pendidikan kesehatan yang berkualitas akan menentukan kualitas tenaga kesehatan yang dihasilkan. Tenaga kesehatan yang kompeten dan berkualitas tentunya amat berperan dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan sekaligus menghindarkan pasien dari berbagai resiko yang tidak perlu saat menerima pelayanan kesehatan. Pada kenyataannya, hal tersebut akan terwujud jika adanya sinergisitas antarprofesi dalam memberikan pelayanan kesehatan. Namun, sejauh mana peran mahasiswa kesehatan dalam “turut andil” dalam pendidikan profesional kesehatan yang terintegrasi? Karena keterbatasan ruang, tulisan ini akan menekankan pada perlunya interprofessional health education, bagaimana peran mahasiswa farmasi dalam sistem pendidikan kesehatan terintegrasi tersebut, dan sudahkah kurikulum farmasi saat ini mengakomodasi hal tersebut?

Perlu Interprofessional Health Education

Interprofessional health education merupakan pendekatan multiprofesi dalam mapping sistem pendidikan kesehatan di Indonesia. Lalu, pertanyannya sekarang mengapa harus menggunakan pendekatan multiprofesi? Namun sebelumnya, saya mengajak untuk melihat fakta-fakta yang ada terkait pendidikan kesehatan. Seperti dikutip dari paparan Prof. dr. Iwan Dwiprahasto M.Med.Sc.,Ph.D dalam pre-conference, Jumat (19/11/10), isu-isu seputar pendidikan tenaga profesional kesehatan :

  1. Pendidikan menghasilkan tenaga profesional kesehatan yang kurang kompeten.
  2. Perubahan ilmu dan teknologi medik dan kesehatan yang sangat cepat menyebabkan ilmu yang didapat selama menjalani pendidikan formal sudah ‘usang’ untuk diterapkan ketika terjun di dunia nyata.
  3. Pendidikan tidak memberi ruang untuk mengakomodasi pendekatan multiprofesi.
  4. Pendidikan tidak menanamkan filosofi kerja tim multiprofesi.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa salah satu faktor utama penyebab timbulnya medical error dan medication error adalah kerjasama tim yang buruk. Ditambah lagi dengan penelitian dari The Institute of Medicine (the IOM, 1999) melaporkan bahwa setiap tahun sekitar 44.000-98.000 pasien meninggal dunia akibat medical error di pelayanan kesehatan di Amerika Serikat. Apakah ini disebabkan human error, device error, atau kurangnya sinergisitas antarprofesi kesehatan dalam memberikan pelayanan?

Dr. Puti Yasmin Chrysanti Marzoeki, Senior Health Specialist World Bank mengatakan bahwa di Indonesia sendiri, tingkat ketidakpuasan penduduk terhadap pelayanan kesehatan terhadap berbagai aspek pelayanan kesehatan terbilang masih cukup tinggi. Hal ini didukung dengan data dalam bentuk diagram batang berikut ini:

Sumber: Sukernas  National Health Survey 2004

Oleh karena itu, pendekatan multiprofesi sudah seharusnya dipandang sebagai ‘investasi berharga’ baik dalam pembenahan sistem pendidikan kesehatan di Indonesia maupun terciptanya iklim kerjasama antardisiplin ilmu kesehatan di masa mendatang. Kejadian-kejadian seperti medical error, medication error, dan resiko yang diterima pasien saat menerima pelayanan kesehatan tak perlu terjadi jika tiap profesi memahami peran dan fungsinya masing-masing dan dengan ‘rendah hati’ mau bekerjasama dalam tim untuk memberikan cara-cara penyelesaian masalah yang komprehensif ke pasien.

Peran Mahasiswa (Farmasi) dalam Pendidikan Kesehatan Terintegrasi

“Kami, mahasiswa ilmu kesehatan Indonesia, meyakini bahwa kesuksesan sebuah sistem pendidikan dipengaruhi oleh kerjasama yang baik antara mahasiswa dengan pendidik. Di samping peran utamanya sebagai objek dari sistem pendidikan, mahasiswa perlu didorong untuk berperan dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi. Pemberdayaan mahasiswa dengan melibatkan mahasiswa dalam pengambilan keputusan meningkatkan kualitas pendidikan dan membangun rasa tanggung jawab di dalam diri mahasiswa terhadap pendidikan mereka sendiri”.

Itulah sebait isi dari Deklarasi Mahasiswa Ilmu Kesehatan Indonesia yang disampaikan dalam acara pre-conference (19/11/10). Deklarasi tersebut dapat dijadikan sebuah komitmen di antara mahasiswa berbagai profesi kesehatan untuk saling bekerja sama di masa depan dalam usaha-usaha mengembangkan pendidikan profesi kesehatan dan kolaborasi antar profesi kesehatan.

Dari penggalan Deklarasi tersebut dapat ditarik ‘benang merah’ bagaimana seharusnya mahasiswa ikut berperan dalam pendidikan kesehatan. Setidaknya ada tiga hal yang perlu diberi perhatian, yaitu keterlibatan dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi. Mahasiswa, sebagai bagian dari  anggota masyarakat memiliki hak yang sama dalam berperan serta dalam proses pendidikan termasuk memberi sumbangsih pemikiran kepada pembuat keputusan dalam pendidikan ilmu kesehatan. “Keterlibatan mahasiswa secara aktif dalam penyusunan serta perbaikan kurikulum dan metode pembelajaran sangat diperlukan agar proses pendidikan lebih user friendly, mampu mengakomodasi masukan dari berbagai stakeholders atau pemangku kepentingan termasuk mahasiswa dan masyarakat serta segenap sivitas akademika”, tutur Iwan Dwiprahasto.

Lalu, bagaimana current condition pendidikan kesehatan saat ini? Sejauh ini bagaimana peran mahasiswa dalam pendidikan kesehatan terintegrasi? Kenyataan menunjukkan bahwa meskipun secara de facto beberapa fakultas kedokteran dan kesehatan dilaksanakan dalam satu atap institusi, tetapi masing-masing lebih terkooptasi oleh obsesi kompetensi yang terpolarisasi. Mahasiswa kedokteran lebih fokus pada tindakan medik dan terapetik yang lebih egosentrik, sedangkan mahasiswa program studi keperawatan lebih fokus pada upaya asuhan keperawatan yang menjadi kompetensinya. Lalu, bagaimana dengan mahasiswa farmasi? Ternyata tak jauh berbeda, lulusan masing-masing profesi kesehatan bisa saja sangat berpengetahuan baik dan sangat terampil (knowledgable & skillfull) di bidang ilmunya tetapi menjadi sangat kering untuk memahami dan mengerti tugas dan fungsi profesi lainnya (Dwiprahasto, 2010).

Oleh karena itu, mahasiswa kesehatan (termasuk farmasi) harus mengambil bagian secara aktif untuk mereposisi peran selama ini yang lebih banyak sebagai obyek di institusi pendidikan. Implementasinya dapat dilaksanakan dengan selalu meng-update ilmu dan melibatkan diri dalam berbagai kegiatan lintas disiplin selama periode pendidikan untuk membiasakan diri memahami peran dan fungsi masing-masing dalam memecahkan berbagai permasalahan kesehatan masyarakat. Terkait dengan hal ini, dalam Acara Talkshow Kurikulum Fakultas Farmasi, Sabtu (04/12/10), Prof. Dr. Subagus Wahyuono M.Sc., Apt mengatakan “ Untuk ke depannya sedang dirancang akan adanya kuliah bersama dengan Fakultas Kedokteran. Hal ini karena dipandang perlu adanya kuliah bersama dalam satu klaster”. Walaupun ditambahkan untuk mengatur transfer kredit (sks) mata kuliah antar fakultas sangat sulit. Namun tentu saja rencana ini harus disambut baik oleh semua sivitas akademika dalam rangka mewujudkan sistem pendidikan kesehatan terintegrasi.

Kurikulum Farmasi, Sudah Idealkah dalam Mewujudkan Pendidikan Kesehatan Terintegrasi?

Menurut hemat saya, kurikulum farmasi yang ada sekarang belum mengakomodasi dan melakukan pendekatan multiprofesi kesehatan. Bisa dikatakan masih ‘pharmacy-minded’. Paling tidak, hal itulah yang saya rasakan selama menjalani perkuliahan di Fakultas Farmasi UGM. Dalam talkshow (04/12/10), Bondan Ardininingtyas M.Sc.,Apt, Sekretaris IAI DIY (Ikatan Apoteker Indonesia-Daerah Istimewa Yogyakarta) menambahkan beberapa hal yang harus ditingkatkan lulusan UGM agar siap menghadapi dunia kerja, antara lain menjaga etika baik etika terhadap teman sejawat, tenaga kesehatan lain, dan pasien dan juga meningkatkan kolaborasi antar tenaga kesehatan. Mengingat pentingnya kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain, maka kurikulum yang sudah disusun berdasarkan kompetensi (competencebased learning) juga seharusnya mengakomodasi pendekatan multiprofesi. “Sejauh ini APTFI (Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia) belum ada mengatur kurikulum yang terintegrasi dengan profesi lainnya. Sejauh ini APTFI menyusun kurikulum inti berbasis kompetensi terdiri dari kurikulum utama, kurikulum pendukung, dan kompetensi lainnya”, tutur  Prof.Dr.Ibnu Gholib Gandjar DEA., Apt, Ketua APTFI.

Momentum perubahan kurikulum yang tinggal sebentar lagi, September 2011, merupakan momen yang sangat tepat untuk mengevaluasi kembali kurikulum yang sudah ada. Dalam hal ini, diperlukan peran aktif mahasiswa agar tidak hanya mau dijadikan obyek. Dekan Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dr. Marchaban, DESS, Apt. mengatakan bahwa Pihak Akademik akan selalu siap mendengarkan keluhan dari mahasiswa. Untuk menunjang hal tersebut sudah disiapkan kotak-kotak saran untuk mahasiswa. Ditambahkan pula, Pihak Fakultas pun terbuka menerima saran dan kritik mahasiswa melalui BEM. Pihak Fakultas pun menyambut baik jika ke depannya di BEM terdapat divisi khusus yang concern terhadap kurikulum. Tunggu apa lagi kawan, saatnya kita berkontribusi terhadap perkembangan pendidikan kesehatan ke depan! Tak ada yang tak mungkin, termasuk perubahan dan jadilah bagian dari perubahan itu!

(Dimuat dalam Majalah Kefarmasian Farsigama)

*Salah satu kumpulan tulisan lama saya, semoga bermanfaat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s