The Journey to Bangka


Kira-kira 2 bulan yang lalu, saya dan tim rombongan kesehatan lainnya berkesempatan untuk travelling ke Pulau Bangka. Pulau yang terkenal dengan keindahan pantainya, pantai dengan pasir seputih kertas berbatu granit artistik, air laut jernih, dan pulau-pulau kecil eksotis. Pulau yang ‘mendadak’ terkenal dan menjadi tujuan utama wisatawan domestik maupun mancanegara setelah sukses diperkenalkan lewat film LASKAR PELANGI (Miles Films, 2008).

Pulau Bangka sendiri merupakan bagian dari Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung. Jadi, ceritanya ada dua pulau utama, Bangka dan Belitung (yang saya kira awalnya letaknya sangat berdekatan, hehehe…). Pulau Bangka ibukotanya di Pangkal Pinang, nah Pulau Belitung ibukotanya di Tanjung Pandan. Kedua-duanya memiliki lapangan terbang dan tempat penyeberangan ferry & kapal masing-masing. Kebayang khan jauh juga ternyata! Perjalanan lewat ferry dari Pulau Bangka ke Belitung bisa menghabiskan waktu hingga 4-6 jam (dihitung dari proses bongkar-muat penumpang dan barang). Lain lagi, kalau naik pesawat cuma makan waktu 15 menit tapi ongkosnya tentu jauh lebih mahal…

Kali ini, kami hanya berkesempatan mengunjungi Pulau Bangka. Yeah, another time lah ke Pulau Belitung-nya…So, enjoy this story!

10 Fakta tentang Pulau Bangka

  1. Pulau Bangka memiliki motto “Negeri Serumpun Sebalai”. Tafsiran kami: serumpun=satu rumpun dan sebalai =satu balai (sekeluarga tinggal dalam satu rumah bersama-sama). Ternyata berbeda tafsirannya versi orang Bangka sendiri (hehehe…). Pribumi bilang maknanya kurang lebih saudara dan sepenanggungan.
  2. Pulau Bangka memiliki keindahan pantai yang luar biasa bagusnya, lengkap dengan pasir putih, air laut yang jernih, bebatuan yang eksotis, bahkan pulau-pulau di sekelilingnya menambah keeksotisan dan keindahan pantainya. Apalagi kalau malam hari, cahaya lampu dari kapal dan dari pulau-pulau di sekelilingnya…Subhanallah, lagi-lagi saya berdecak kagum atas ciptaanNya yang begitu sempurna!
  3. Sepanjang perjalanan kami  dari Pelabuhan Muntok ke ibukota Pangkal Pinang (±138 km) yang makan waktu sekitar 2 jam-an, kami melihat banyak puskesmas-puskesmas, entah puskesmas induk, pembantu, poskesdes juga banyak. Semoga kualitas pusat layanan kesehatan dan tenaga kesehatannya juga memadai!
  4. Rasa kekeluargaan, saling bantu-membantu, dan tepo seliro masyarakat Bangka tinggi sekali. Tim kami sempat merekam kejadian ‘mengharukan’ (agak lebay) di tengan perjalanan Muntok-Pangkal Pinang tiba-tiba mengerem mendadak karena mau membantu mengambilkan bensin untuk orang yang kehabisan bensin di kampung sebelah. Padahal yah, sopir sana kalau nyetir beuh cepatnya naudzubillah, sport jantung deh beneran… Saat perjalanan itu juga, kami sempat melihat bapak-bapak di beberapa titik desa jalan menuju masjid sambil meninting tampah (kalau di Jawa_red) berisi makanan. Menurut Pak Sopir itu adalah tradisi nganggung,,,tirakatlah kalau di Jawa… mereka membawa makanan ke mesjid, trus ada acara apa gitu, dan maemnya yang dibawa saling ditukar sama yang lain dan dimaem bareng-bareng (kayak kado silang aja :-D)
  5. Adalah fakta bahwa masyarakat Bangka punya taraf hidup yang tinggi, lihat aja dari rumahnya. Pemukiman di daerah pedesaannya aja begitu, apalagi di Pangkal Pinangnya…hehehe menjulang (rumahku aja gak segede itu deh kayaknya ;-D). Lain cerita lagi, saking tajirnya perayaan HUT SMA-nya aja dapat backingan (baca: sponsor) PERTAMINA, BRI, PT TIMAH, KOBA, dkk….termasuk ngundang kita-kita ke sana gratis…Thanks to Panitia. Pesan kita-kita sering-sering aja ngundangnya J
  6. Perekonomian sebagian besar bergantung pada tambang timahnya. Selain tambang timah, juga pada pariwisata, perkebunan, dagang, dan PNS. Sektor perekonomian perdagangan banyak dikuasai oleh saudara-saudara kita Tionghoa. Konon, kata Pak Sopir kalau sudah imlek di sini dah kayak kota mati. Toko-toko pada tutup semua. Sementara itu, penduduk pribumi kebanyakan bekerja di PT TIMAH dan menjadi PNS.
  7. Adalah fakta kalau barang-barang di sana mahal-mahal, makanannya juga mahal-mahal (ya iyalah bandingannya Jogja yang semuanya serba murah…hehehe)
  8. Adalah fakta kalau makanan seafoodnya enak-enak…heuheuheu…Duh gak nemu deh makanan seafood seenak ini di Jogja. Rugi pokoknya kalau belum kesana J
  9. Adalah fakta karena penduduknya banyak juga etnis Tionghoa makanya bahasanya trilingual: Bahasa Indonesia-Bahasa Bangka-Bahasa Cina…Saya agak mengernyitkan kening membaca mading di sekolah itu yang dwibahasa, bahasa Indonesia dan China (ora mudeng blas bahasa China).
  10. Adalah fakta kalau sudah pernah ke Pulau ini, pasti suatu saat pengen balik lagi. Hehehehe…

Nah itu, 10 fakta versi saya setelah mengunjungi Pulau Bangka. Bagaimana dengan Anda? Mari menikmati keindahan alam khas negeri kita. Semoga Allah memberkahi pulau yang terkenal dengan keindahan pantainya dan penduduknya ini. In the near future, masuk agenda saya, travelling to Pulau Belitung…Waiting for the next story guys!

Neh, saya kasih oleh-oleh keindahan, keberagaman Pulau Bangka yang sempat kami rekam…Silakan menikmati…:)

The Superb Beach, Pantai Parai, Bangka

View masuk Pantai Parai, Bangka

Bebatuan yang tersusun apik, menambah keindahan Pantai Parai, Bangka

Tim berfoto bersama. I’ll miss u all a lot..Mbak, mas, dan bapak-bapakku

Cantik dan ganteng nian…dengan pakaian adat khas Bangka-Belitung

View di malam hari, lengkap dengan lampu-lampu menyusuri jembatan. Keren banget sumpah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s