Pasti Bisa a.k.a Lagunya Citra Scholastika


Mentari terbenam temani dalam kesendirianku
Temani aku dalam kepedihan ini
Ku bertahan

Mentari terbenam beri semangat baru tuk jiwaku
Beri kicauan merdu tuk hidupku ini
Ku bertahan

Aku pasti bisa
Menikmati semua dan menghadapinya
Aku yakin pasti bisa

Mentari terbenam beri semangat baru tuk jiwaku
Beri kicauan merdu tuk hidupku ini
Ku bertahan

Aku pasti bisa
Menikmati semua dan menghadapinya
Aku yakin pasti bisa

Aku pasti bisa
Menikmati semua dan menghadapinya
Aku yakin pasti bisa

Aku ingin lepaskan seluruh bebanku
Dan ku jalani hidupku dengan senyuman

Aku pasti bisa
Menikmati semua dan menghadapinya
Aku yakin pasti bisa

Dan ku jalani hidupku dengan senyuman

 
Love this song 🙂

Teknologi Tidak Mampu Menuntaskan Rindu Hati (Dikutip dari Ust. Cahyadi Takariawan)


Sebuah tulisan Ust. Cahyadi Takariawan yang sangat mengena bagi saya. Berhubung beberapa orang di sekitar saya dan dan saya sendiri pernah mengalaminya,saya setuju banget Pak Ust. ‘Kualitas dan kuantitas pertemuan dalam suatu hubungan harus berjalan beriringan’.

Image

“Apa sulitnya ngomong… Telpon gak pernah, sms gak pernah…”
“Aku gak punya pulsaaaaa……”

Begitu kata iklan di televisi. Teknologi komunikasi seakan telah dijadikan sarana utama untuk menjalin hubungan kemesraan. Tidak masalah terpisah jarak, tapi tetaplah bicara lewat telpon atau sms, atau lewat email, chatting dan sebagainya. Namun, benarkah teknologi bisa menautkan hati ? Bisakah teknologi merawat perasaan ? Bisakah teknologi melanggengkan kecintaan ? Bisakah teknologi menuntaskan kerinduan ?

Dalam kehidupan keluarga modern yang sangat sibuk, sering kita mendengar ungkapan, “Tidak penting berapa lama waktu pertemuan, namun yang lebih penting adalah kualitas pertemuan”. Ungkapan ini seakan membenarkan kesibukan suami dan isteri yang membuat mereka jarang bertemu. Kurang lebih ingin memaafkan kondisi ini dengan dalih kualitas pertemuan jauh lebih penting daripada jumlah dan waktu pertemuan.

Benar, kualitas pertemuan sangat penting. Namun jangan pernah mengabaikan kuantitas pertemuan. Jangan sekali-kali menganggap bahwa jumlah atau hitungan waktu pertemuan tidak penting. Kuantitas pertemuan itu sangat penting. Sekali lagi : sangat penting!

Teknologi Tidak Mampu Menuntaskan Rindu

Saya tidak bisa membayangkan bahwa sebuah keluarga hidup terpisah dalam waktu yang lama dan tidak ada batas masa yang jelas kapan bertemunya. Suami bekerja di Indonesia, isteri bekerja di Malaysia. Suami bekerja di Australia, isteri bekerja di Indonesia. Suami tinggal di Kalimantan, isteri tinggal di Sulawesi. Suami menetap di Aceh, isteri menetap di Papua. Setiap hari mereka berkomunikasi melalui telepon, SMS, email, chatting, teleconference, dan sejumlah sarana lainnya yang sangat canggih.

Secanggih apapun teknologi yang membuat anda selalu terhubung dengan pasangan anda selama 24 jam sehari semalam, namun ingatlah : teknologi tidak pernah bisa menggantikan kehangatan pertemuan langsung. Saat mengobrol melalui teknologi internet, saling bisa memandang dan melihat pasangannya melalui layar laptop, namun itu tidak pernah serupa dengan pertemuan langsung. Rasa kangen yang anda miliki dan ingin anda curahkan kepada pasangan, ternyata hanya berhadapan dengan benda keras bernama laptop atau komputer. Saat anda menyentuh wajahnya dan membelai rambutnya, ternyata hanya layar laptop atau layar komputer.

Tidak ada yang bisa menggantikan pelukan langsung antara suami dan isteri. Teknologi tidak akan mampu menggantikan perasaan nyaman yang muncul akibat pelukan mesra. Tidak bisa dan tidak akan bisa. Pelukan suami kepada isteri, dan sebaliknya, tidak bisa digantikan oleh apapun dan oleh siapapun. Benar-benar spesial, dan tak tergantikan oleh kecanggihan teknologi.

Konon, saat berpelukan, tubuh melepaskan hormon oxytocin yang berkaitan dengan rasa damai dan cinta. Hormon ini membuat jantung dan pikiran menjadi tenang dan sehat. Itulah sebabnya, pelukan diyakini dapat menambah angka harapan hidup pasangan anda. Setiap kali anda memeluk pasangan dengan penuh ketulusan dan kasih sayang, bertambahlah angka harapan hidupnya, karena bertambah kesehatannya. Hal ini akan tampak pada penampilannya yang awet muda.

Perhatikan Kuantitas Pertemuan

Bukan hanya kualitas pertemuan, pasangan suami isteri harus sangat peduli dengan kuantitas pertemuan. Jika suami dan isteri terpisah oleh jarak karena tuntutan pekerjaan atau alasan apapun, harus ada batas waktu yang jelas kapan kondisi seperti itu akan berakhir. Karena. Normalnya kehidupan keluarga adalah tinggal bersama dalam satu rumah tangga. Kehadiran suami dan isteri dalam rumah tangga yang harmonis, sangat memberikan makna yang dalam bagi kualitas kehidupan.

Di antara bahaya keterpisahan suami dan isteri adalah muncul perasaan lebih nyaman kalau sendirian. Karena telah terbiasa tinggal terpisah dari pasangan dan dari keluarga, akhirnya masing-masing menikmati suasana kesendirian tersebut, dan bahkan terbentuk sikap merasa lebih nyaman sendirian. Bahaya sekali sikap seperti ini, karena sangat potensial menghancurkan kebahagiaan keluarga. Akhirnya menganggap tidak ada manfaatnya kebersamaan, dan merasa lebih nyaman kesendirian.

Maka, jangan pernah menyepelekan kuantitas pertemuan. Benar, bahwa kualitas pertemuan sangat penting namun kuantitas pertemuan tidak boleh diabaikan. Anda harus menikmati kebersamaan dalam keluarga. Kalaupun terpaksa terpisah karena tugas atau tuntutan pekerjaan, harus ada batas waktu yang jelas. Tidak boleh terpisah untuk waktu yang tidak ditentukan. Apalah artinya berumah tangga jika tinggal terpisah dan tidak menikmati kebersamaan.

Jadi, pertemuan suami dan isteri harus menjadi pertemuan yang berkualitas. Namun jangan mengabaikan kuantitas pertemuan. Anda harus selalu mengagendakan untuk bertemu dan berkumpul dalam sebuah kehangatan dan keharmonisan keluarga. Sesibuk apapun anda, setinggi apapun posisi karir anda, sepadat apapun jadwal kegiatan anda, harus selalu memiliki waktu yang cukup untuk bertemu dan berkumpul dengan pasangan dan keluarga anda.

Dan jangan lupa, sering-seringlah memeluk pasangan anda. Karena teknologi tidak akan mampu menuntaskan perasaan rindu.

Rumah Idaman…


Kata orang bijak ‘Hidup itu harus direncanakan’. Dan ‘Jika kamu mempunyai impian, maka kamu harus melindungi impian tersebut. Dan jangan biarkan orang mengatakan kamu tidak akan meraihnya’ (Will Smith dalam Pursue of Happiness Movie). Itu adalah testimoni dari Will Smith yang menjadi trademark sebuah bisnis pengembang property. Berhubung dari malam-malam kemarin kebawa mimpi terus, saya punya rumah sendiri. Saya ingin memvisualisasikan rencana saya ke depan lainnya, memiliki sebuah rumah sendiri dari hasil jerih payah sendiri (Tadaaaaaa…). Semoga dalam 1 atau 2 tahun lagi saya bisa mengajukan KPR dan mimpi itu menjadi kenyataan. Allahuma amien. Duh senangnya, bisa punya rumah tempat kumpul keluarga, hasil jerih payah sendiri pula..:)

Inspiring Female Role Mod…


I got this quote on Linkedin and I love it…
We asked some of our inspiring women leaders “what is your message to other women for their career progression?” Here’s what they told us…

Love What You Do
Believe in Yourself
Be Clear About Your Priorities
Be Brave
Seek Mentors
Be the Change

Mahalnya Sebuah Harga Kejujuran


Di awal saya memulai kerja ini, saya mendapat pelajaran sangat berharga. Betapa mahalnya harga sebuah ‘KEJUJURAN’, setidaknya itulah inti yang saya dapat dari kejadian yang terjadi di kantor baru-baru ini.

Salah satu teman sekantor saya ‘dikeluarkan’ secara tidak hormat alias dipecat karena dia tidak mau mengakui dengan ‘JUJUR’ kesalahan yang dia buat. Hari itu juga, dia diminta untuk pulang cepat dan menyelesaikan urusan yang masih tersisa di kantor sekaligus handover kerjaan belum selesai ke yang lain. Tentu saja, manajemen memberikan keputusan tersebut memiliki alasan kuat, sudah melewati tahap interogasi dari banyak arah, dan menimbang seberapa beratnya kesalahan yang dilanggar. Sinyal neh besok-besok bakal lembur terus karena kerjaan bakal dilimpahin ke yang lain! Tentu seisi kantor kaget bukan main, termasuk saya karena saya tergolong ‘anak baru’ di perusahaan.

Memahami Core Values Perusahaan

Menurut saya, penting sekali sebagai karyawan/employee memahami core values dari perusahaan tempatnya bekerja. Tidak hanya dipahami tapi menjadi nafas dan keyakinan yang harus dipegang teguh, entah itu ketika pekerjaan berjalan smooth atau ketika dihadapkan dengan sebuah kejadian yang memerlukan tindakan cepat, ‘kegentingan’, dibujuk atau terbujuk ‘bermain kotor’. Seperti yang dialami oleh teman saya, dia terjebak untuk ‘bermain kotor’ dalam menyelesaikan sebuah proyek. Sebagai seorang konsultan bisnis, saya sadar pekerjaan ini tergolong ‘grey area’, namun satu hal yang saya salut yaitu dengan prinsip yang dipegang teguh oleh Bos saya, ‘We need people who believe in doing business on the right things in order to comply with regulatory requirements’. Lebih jauh lagi, ada visi-misi besar mulia di balik itu semua, secara tidak langsung klien-klien kami diajarkan agar tetap ‘DOING BUSINESS ON THE RIGHT THINGS’ lewat empowerment walaupun urusan dengan perusahaan kami sudah selesai.

Watchout Your Attitude at Work: ‘Jaga Komitmen, Kepercayaan, Loyalitas, dan Integritas’

Mungkin kepribadian orang sebenarnya akan terlihat ketika dihadapkan dengan sebuah masalah. Apalagi yang membutuhkan tindakan cepat, di sana akan teruji sampai sejauh mana kita memahmi core values perusahaan dan seberapa ‘keukeuhnya’ memegang prinsip-prinsip yang kita yakini. Kadang sebuah hal yang salah namun sering dilakukan orang dianggap sebagai sebuah kewajaran. Dan kelaziman yang tak benar itu jelas-jelas terjadi dalam dunia kerja termasuk bisnis. Di sanalah komitmen, kepercayaan, loyalitas, dan integritas sebagai karyawan diuji. Apakan akan tetap ‘GO AHEAD’ atau straightforward to SAY NO dengan hal-hal lazim tapi tak benar itu? Ya Allah, semoga Engkau melindungi hamba-Mu ini dari praktek-praktek seperti itu.

Kepercayaan Harus Dibeli: ‘Don’t Make Even Single Lying’

Bos saya bilang ‘Kepercayaan itu harus dibeli, bahkan mungkin dengan harga yang mahal. Saya yakin kalian semua orang-orang cerdas. Skill bisa diasah namun yang susah itu menumbuhkan trusworthy. Padahal itu modal utama supaya kita bisa kerja sama-sama enak’. Benar sekali, menurut saya tidak serta-merta orang akan memberikan kepercayaannya apalagi kalau belum proven (ada buktinya). Pekerjaan yang seperti saya lakoni sekarang, menuntut saling percaya satu sama lain, apalagi kami diminta untuk memegang paling tidak 2 proyek yang tentu saja satu dua kali ditemani senior dan bos namun setelah itu ‘dilepas’ sendiri. Bagaimana jadinya kalau setelah dilepas tidak bisa menjaga kepercayaan itu? Padahal tiap orang di sana adalah representatif dari perusahaan itu sendiri.

Dan teman saya yang ‘terjerumus’ untuk melakukan hal yang salah namun ia tidak jujur dengan apa yang terjadi, harus membayar harga mahal untuk itu. Hm…Ok, I learned a lot from this case!

Terima Kasih Adinda, My Beloved Ninis…


“Saya percaya tidak ada hal yang abadi di dunia ini, bahkan yang abadi itu mungkin ketidakabadian itu sendiri. Termasuk persahabatan dan hubungan tapi saya percaya hanya orang-orang yang tepat yang akan tetap tinggal dalam hati…”

 

Selepas kelulusan karena tidak punya banyak waktu untuk mengurus hal-hal terkait ‘kepindahan’ saya dari Yogya ke Jakarta, jadilah saya tak sempat membuka dan membaca seperangkat kenang-kenangan dan surat ‘perpisahan’ yang dibuat oleh teman-teman terdekat saya. Hmm….So speechless, I love you all guys ^_^

Dear Mba Chacha, Congratulation (^v^) and Good Bye (T_T)…

Yeay!! Akhirnya… Pada hari ini, Kamis, 15 Maret 2012 Mba Cha diwisuda (disumpahin jadi apoteker, hehe…). Wah… selamat ya Mba Cha ku sayang… sekarang udah resmi jadi apoteker. Obat obat obat… *gaya penjual obat*

Setelah bertahun-tahun belajar mati-matian, ratusan buku sudah dijelajahi, keringat bercucuran, mengorbankan banyak jam tidur, waktu istirahat dan jam mandi(?), serta tekanan dan tuntutan yang semuanya berakibat pada fluktuatifnya perubahan berat badan Mba Cha, saatnya menikmati buah dari semua jerih payah itu (lebay banget ya?). 

Mba Cha, there are so many things I want to tell you, but since I’m shy, hehe… I just wrote it here. Please read this sincerely…

 

A little letter for my beloved Mba Hafsyah Zahara

 

Hari ini semua pengorbanan Mba Cha terbayar.

Hari ini semua pengorbanan Mba Cha dibuktikan oleh beberapa helai kertas berharga.

Hari ini adalah tanda penghargaan untuk orang tua Mba Cha yang telah mendidik putrinya dengan luar biasa hebatnya.

Hari ini sudah bertambah satu gelar lagi dibelakang nama Mba Cha.

Dan, mulai dari hari ini lembaran baru kehidupan Mba Cha dengan segudang tanggung jawab dan amanah yang lebih besar telah dimulai.

Perjalanan di depan masih panjang dan mungkin akan lebih melelahkan lagi, masih banyak mimpi dan harapan yang ingin Mba Cha capai.

Mba Cha, gerbang itu sudah terbuka semakin lebar… Genggaman orangtua untuk tangan Mba Cha sudah semakin longgar. Berjalanlah tanpa tertatih, berlarilah tanpa terjatuh, terbanglah seakan sayap Mba Cha tidak akan pernah lelah mengepak.

Disana Mba Cha, di hamparan itu… Mimpi-mimpi itu sudah menanti untuk Mba Cha raih… Mungkin sekarang terlihat sedikit samar dan berkabut, tapi doa dari orang tua, keluarga, sahabat, teman-teman dan perjuangan Mba Cha sendiri akan membuatnya semakin jelas dan dekat.

Terus semangat dan tetap istiqomah menjadi pribadi Mba Cha yang kami kenal: seorang wanita yang kuat, cerdas, tegar, ikhlas dan penyayang.

We love you Mba Cha…(I love you all too…)

Semoga sukses dan teraih semua mimpi-mimpimu… Amiin…

From: Ninis

Yang tidak pernah berhenti berterima kasih untuk Mba Cha,

Atas semua ilmu, pengalaman dan kenangan yang diberikan oleh Mba Cha

 

*Ya ampun, Ninis…suratmu ini bikin mata Mba berkaca-kaca. Sukses juga buat kamu ya, Nduk! Seperti yang Ninis sering bilang agar ikatan persahabatan itu kuat, harus dilandasi, didukung dengan niat mencari ridhoNya. InsyaAllah mba akan selalu doakan dalam sujud mba. Thanks Ninis sudah menemani hari-hari Mba di Jogja, pas senang, sedih, galau, patah hati, kecewa, saat-saat menyelesaikan skripsi (haduh nangis khan gw jadinya…). Tak ada alasan untuk jatuh dan tidak bangkit lagi. Belajar, berkarya, berkontribusi adalah kewajiban hidup di dunia. Terima kasih untuk semua yang telah mendukung, saya doakan semoga kalian juga sukses dalam bidang apa pun yang ditekuni, selalu diberi kemudahan olehNya. Terima kasih juga untuk yang (mungkin) tidak mendukung saya, hal itu membentuk kepribadian dan mental saya. Saya juga doakan semoga kalian bisa menemukan jalan kesuksesan masing-masing. Salah satu jalan untuk melangkah pasti ke depan adalah memaafkan masa lalu dan merancang masa depan. BE REAL STRUGGLE IS A MUST!!!

Image

Perkembangan dalam Dunia Kefarmasian Indonesia


Dunia kefarmasian Indonesia terus berkembang. Bukan rahasia umum, jika regulasi di bidang kesehatan dan kefarmasian juga terus mengalami perubahan seiring dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Dalam pidato beberapa pejabat penting yang diundang dalam Wisuda dan Sumpahan Apoteker lalu, saya menangkap beberapa point penting yang merupakan tantangan dan peluang bagi para farmasis di era modern ini.

Dunia Kefarmasian Indonesia: ‘Hadirnya’ Komite Farmasi Nasional (KFN)
KFN dibentuk dalam upaya peningkatan dan penjaminan mutu tenaga kefarmasian dalam melaksanakan praktik keprofesiannya. KFN sebagai unit organisasi non-struktural yang bertanggung jawab kepada Menkes dalam melaksanakan peningkatan dan penjaminan mutu tenaga kefarmasian (Pusat Komunikasi Publik Sekjen Kemenkes RI, 2011). Dalam Wisuda dan Sumpahan lalu, salah satu anggota KFN hadir untuk memberikan secara simbolis Surat Kompetensi Apoteker (SKA), yakni Bapak Dr. Faiq Bahfen, SH. Dengan hadirnya PP No. 51 Tahun 2009, banyak perubahan yang terjadi dalam dunia kefarmasian Indonesia. Begitu pula dengan kemudahan yang kami terima sebagai Apoteker baru, langsung bisa mendapatkan Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA) dan Surat Kompetensi Apoteker (SKA), yang diurus secara ‘berjamaah’ oleh pihak kampus. Dulunya, untuk mendapatkan kedua surat ‘sakti’ untuk menjalankan praktik kefarmasian itu perlu waktu berbulan-bulan dan proses yang cukup ribet. Saya acungi jempol dengan adanya perubahan ini!!!

Dalam pidatonya yang dikemas sangat menarik dan berbobot, Dr. Faiq Bahfen, SH juga memaparkan beberapa hal yang bagi saya sangat useful untuk memompa semangat saya dalam menjalankan praktek kefarmasian. Mungkin tidak langsung dirasakan sekarang tapi beberapa tahun ke depan, saat menemukan ‘ketidaksinkronan’ antara teori dan praktek. Setidaknya ada 3 point yang saya tangkap:

a) Terbentuknya Mahkamah Kesehatan, Perlu Peran Farmasis di dalamnya
b) Pelaksanaan Universal Coverage (Sistem Jaminan Kesehatan Nasional yang sifatnya global) Tahun 2014
c) Tanggungjawab Apoteker sebagai Lifelong-Learner: Menghadapi Dunia Farmasi yang Terus Berubah

Tak mengherankan bagi saya, dokter yang juga sarjana hukum ini sangat fasih dalam membahas masalah hukum kesehatan. Beliau dkk berjuang ke Mahkamah konstitusi agar ada peradilan khusus untuk tenaga kesehatan yang melakukan malpraktik, kecurangan dalam menjalankan prakteknya, dan melanggar peraturan perUUan yang ada. Saya sangat setuju terbentuknya Mahkamah Kesehatan ini, penanganan untuk tenaga kesehatan yang melanggar aturan sudah seharusnya ‘diadili’ oleh pihak profesional kesehatan sendiri, tentunya yang mengerti hukum. Lagi-lagi, ini akan memberikan kesempatan bekerja dan berkarier untuk farmasis. Dr. Faiq Bahfen, SH dengan nada santai berkata ‘Ini membuka kesempatan kerja baru loh buat farmasis, sudah saatnya kita mengadili teman seprofesi yang melanggar aturan. Bahkan gajinya juga lumayan besar’. Pernyataan terakhir membuat gelak tawa seisi ruangan…(hehehe udah denger duit aja yah…).

Selanjutnya, beliau juga bilang para farmasis juga harus bersiap dengan akan adanya pemberlakuan Universal Coverage di tahun 2014. Seperti apa pelaksanaanya, saya juga kurang tahu. Mungkin ada yang lebih tahu, silakan dishare! Yang jelas, harga obat akan ditekan, prinsip berkeadilan diharapkan akan lebih berjalan, semua masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan terutama masyarakat miskin harus bisa mendapatkan obat dengan mudah dan harga terjangkau.

Di akhir pidatonya, beliau juga menyerukan kepada kami, para Apoteker baru, JANGAN PERNAH BERHENTI BELAJAR! Kepada para orang tua wisudawan/wati juga diharapkan untuk mendukung anak-anaknya untuk terus belajar. Peran farmasis yang luas dari industri farmasi hulu sampai hilir, di tempat-tempat pelayanan kesehatan (RS, klinik, apotek), pemerintahan (BPOM, Kemenkes, Litbang, dll) hingga masuk ke ranah hukum perlu terus dibarengi dengan ilmu yang up-to-date. Tidak lain, tidak bukan agar obat bermutu, berkhasiat, aman, mudah didapatkan, dan terjangkau bagi pasien dan konsumen.

Uji Kompetensi: Keharusan Menghadapi Era Globalisasi (baca: Jelang AFTA 2015)
Menjelang diterapkannya ASEAN Free Trade Area (AFTA) 2015, setiap Apoteker yang akan bekerja di luar negeri harus diasimilasi dengan mengikuti uji kompetensi. Sebaliknya, semua Apoteker lulusan sekolah luar negeri yang akan bekerja di Indonesia juga melalui uji kompetensi. (hal. 75-Suara Merdeka). Oleh karena itu, dimulai bulan September lalu, semua Apoteker yang tergabung dalam Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) harus memiliki STRA dan Sertifikat Kompetensi. Sertifikat Kompetensi ini juga hanya berlaku selama 5 tahun dan setelah itu harus diperpanjang. Perpanjangannya dengan syarat mengikuti Continuing Professional Development (CPD) atau pendidikan berkelanjutan, dan juga harus melakukan praktek. Nah loh, klo kayak saya yang kerja di Perusahaan Konsultan gimana?

Saya sempat mengikuti salah satu acara CPD IAI ketika masih kuliah profesi, kata Pak Nunut Rubiyanto, Ketua Pengurus Daerah IAI DIY, sedang digojok bagaimana untuk yang tidak berpraktek, misalnya yang jadi dosen, kerja di industri, kerja di pemerintahan, dll akan ada banyak pilihan agar mendapatkan poin untuk terus memperpanjang Sertifikat Kompetensi termasuk dengan mengikuti baksos, menulis buku, menjadi pembicara, mengikuti seminar, dll. Saya seh setuju-setuju saja asal jelas dan dilaksanakan dengan konsisten peraturan ini. Kalau Sertifikat Kompetensi berlaku seumur hidup kayak yang dulu-dulu, akan jadi ‘kebiasaan’ untuk enggan ‘belajar’ lagi (gak semuanya seh, bisa ditimpuk sama senior-senior saya). Lah gimana komunikasi dengan pasien, teman sejawat, dokter, dokter gigi, perawat, dll itu kalau farmasisnya gak up-to-date??? Saya dukung apa yang dilakukan IAI walaupun banyak ditentang Apoteker-Apoteker lama (hehehe secara beda zaman…). Saya pernah diskusi tentang hal ini dengan Bapak Dosen saya, Bapak Ibnu, di luar negeri, uji kompetensi itu telah lama dilakukan. Kalau Indonesia mau maju, ya memang harus seperti itu.

Tentu saja, berarti tuntutan kepada farmasis dalam negeri semakin tinggi. Tidak hanya harus melengkapi diri dengan ilmu kefarmasian tapi juga bahasa. Saya gak bisa membayangkan di tahun-tahun mendatang farmasis dari Malaysia, Thailand, Filipine, bahkan Australia akan ‘membanjiri’ Indonesia. Apalagi setahu saya, di Filipine dan Australia di sistem perkuliahan mereka, bahasa Indonesia termasuk salah satu mata kuliah wajib/pilihan. Wah, kenapa di kurikulum kita gak yah, bahasa Inggris saya aja masih ‘belepotan’, makanya masuk ke Perusahaan Konsultan yang banyak menangani klien asing, biar terbiasa menggunakannya. Hehehehe…:)

Ternyata kalau ngomongin ‘dunia kefarmasian’ gak habis-habis yah. Secara saya sudah terlanjur ‘jatuh cinta’ dengan dunia ini. Ok deh, keep struggling untuk tetap berkontribusi dalam dunia kefarmasian Indonesia. HIDUP APOTEKER INDONESIA!!!