Perkembangan dalam Dunia Kefarmasian Indonesia

Standard

Dunia kefarmasian Indonesia terus berkembang. Bukan rahasia umum, jika regulasi di bidang kesehatan dan kefarmasian juga terus mengalami perubahan seiring dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Dalam pidato beberapa pejabat penting yang diundang dalam Wisuda dan Sumpahan Apoteker lalu, saya menangkap beberapa point penting yang merupakan tantangan dan peluang bagi para farmasis di era modern ini.

Dunia Kefarmasian Indonesia: ‘Hadirnya’ Komite Farmasi Nasional (KFN)
KFN dibentuk dalam upaya peningkatan dan penjaminan mutu tenaga kefarmasian dalam melaksanakan praktik keprofesiannya. KFN sebagai unit organisasi non-struktural yang bertanggung jawab kepada Menkes dalam melaksanakan peningkatan dan penjaminan mutu tenaga kefarmasian (Pusat Komunikasi Publik Sekjen Kemenkes RI, 2011). Dalam Wisuda dan Sumpahan lalu, salah satu anggota KFN hadir untuk memberikan secara simbolis Surat Kompetensi Apoteker (SKA), yakni Bapak Dr. Faiq Bahfen, SH. Dengan hadirnya PP No. 51 Tahun 2009, banyak perubahan yang terjadi dalam dunia kefarmasian Indonesia. Begitu pula dengan kemudahan yang kami terima sebagai Apoteker baru, langsung bisa mendapatkan Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA) dan Surat Kompetensi Apoteker (SKA), yang diurus secara ‘berjamaah’ oleh pihak kampus. Dulunya, untuk mendapatkan kedua surat ‘sakti’ untuk menjalankan praktik kefarmasian itu perlu waktu berbulan-bulan dan proses yang cukup ribet. Saya acungi jempol dengan adanya perubahan ini!!!

Dalam pidatonya yang dikemas sangat menarik dan berbobot, Dr. Faiq Bahfen, SH juga memaparkan beberapa hal yang bagi saya sangat useful untuk memompa semangat saya dalam menjalankan praktek kefarmasian. Mungkin tidak langsung dirasakan sekarang tapi beberapa tahun ke depan, saat menemukan ‘ketidaksinkronan’ antara teori dan praktek. Setidaknya ada 3 point yang saya tangkap:

a) Terbentuknya Mahkamah Kesehatan, Perlu Peran Farmasis di dalamnya
b) Pelaksanaan Universal Coverage (Sistem Jaminan Kesehatan Nasional yang sifatnya global) Tahun 2014
c) Tanggungjawab Apoteker sebagai Lifelong-Learner: Menghadapi Dunia Farmasi yang Terus Berubah

Tak mengherankan bagi saya, dokter yang juga sarjana hukum ini sangat fasih dalam membahas masalah hukum kesehatan. Beliau dkk berjuang ke Mahkamah konstitusi agar ada peradilan khusus untuk tenaga kesehatan yang melakukan malpraktik, kecurangan dalam menjalankan prakteknya, dan melanggar peraturan perUUan yang ada. Saya sangat setuju terbentuknya Mahkamah Kesehatan ini, penanganan untuk tenaga kesehatan yang melanggar aturan sudah seharusnya ‘diadili’ oleh pihak profesional kesehatan sendiri, tentunya yang mengerti hukum. Lagi-lagi, ini akan memberikan kesempatan bekerja dan berkarier untuk farmasis. Dr. Faiq Bahfen, SH dengan nada santai berkata ‘Ini membuka kesempatan kerja baru loh buat farmasis, sudah saatnya kita mengadili teman seprofesi yang melanggar aturan. Bahkan gajinya juga lumayan besar’. Pernyataan terakhir membuat gelak tawa seisi ruangan…(hehehe udah denger duit aja yah…).

Selanjutnya, beliau juga bilang para farmasis juga harus bersiap dengan akan adanya pemberlakuan Universal Coverage di tahun 2014. Seperti apa pelaksanaanya, saya juga kurang tahu. Mungkin ada yang lebih tahu, silakan dishare! Yang jelas, harga obat akan ditekan, prinsip berkeadilan diharapkan akan lebih berjalan, semua masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan terutama masyarakat miskin harus bisa mendapatkan obat dengan mudah dan harga terjangkau.

Di akhir pidatonya, beliau juga menyerukan kepada kami, para Apoteker baru, JANGAN PERNAH BERHENTI BELAJAR! Kepada para orang tua wisudawan/wati juga diharapkan untuk mendukung anak-anaknya untuk terus belajar. Peran farmasis yang luas dari industri farmasi hulu sampai hilir, di tempat-tempat pelayanan kesehatan (RS, klinik, apotek), pemerintahan (BPOM, Kemenkes, Litbang, dll) hingga masuk ke ranah hukum perlu terus dibarengi dengan ilmu yang up-to-date. Tidak lain, tidak bukan agar obat bermutu, berkhasiat, aman, mudah didapatkan, dan terjangkau bagi pasien dan konsumen.

Uji Kompetensi: Keharusan Menghadapi Era Globalisasi (baca: Jelang AFTA 2015)
Menjelang diterapkannya ASEAN Free Trade Area (AFTA) 2015, setiap Apoteker yang akan bekerja di luar negeri harus diasimilasi dengan mengikuti uji kompetensi. Sebaliknya, semua Apoteker lulusan sekolah luar negeri yang akan bekerja di Indonesia juga melalui uji kompetensi. (hal. 75-Suara Merdeka). Oleh karena itu, dimulai bulan September lalu, semua Apoteker yang tergabung dalam Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) harus memiliki STRA dan Sertifikat Kompetensi. Sertifikat Kompetensi ini juga hanya berlaku selama 5 tahun dan setelah itu harus diperpanjang. Perpanjangannya dengan syarat mengikuti Continuing Professional Development (CPD) atau pendidikan berkelanjutan, dan juga harus melakukan praktek. Nah loh, klo kayak saya yang kerja di Perusahaan Konsultan gimana?

Saya sempat mengikuti salah satu acara CPD IAI ketika masih kuliah profesi, kata Pak Nunut Rubiyanto, Ketua Pengurus Daerah IAI DIY, sedang digojok bagaimana untuk yang tidak berpraktek, misalnya yang jadi dosen, kerja di industri, kerja di pemerintahan, dll akan ada banyak pilihan agar mendapatkan poin untuk terus memperpanjang Sertifikat Kompetensi termasuk dengan mengikuti baksos, menulis buku, menjadi pembicara, mengikuti seminar, dll. Saya seh setuju-setuju saja asal jelas dan dilaksanakan dengan konsisten peraturan ini. Kalau Sertifikat Kompetensi berlaku seumur hidup kayak yang dulu-dulu, akan jadi ‘kebiasaan’ untuk enggan ‘belajar’ lagi (gak semuanya seh, bisa ditimpuk sama senior-senior saya). Lah gimana komunikasi dengan pasien, teman sejawat, dokter, dokter gigi, perawat, dll itu kalau farmasisnya gak up-to-date??? Saya dukung apa yang dilakukan IAI walaupun banyak ditentang Apoteker-Apoteker lama (hehehe secara beda zaman…). Saya pernah diskusi tentang hal ini dengan Bapak Dosen saya, Bapak Ibnu, di luar negeri, uji kompetensi itu telah lama dilakukan. Kalau Indonesia mau maju, ya memang harus seperti itu.

Tentu saja, berarti tuntutan kepada farmasis dalam negeri semakin tinggi. Tidak hanya harus melengkapi diri dengan ilmu kefarmasian tapi juga bahasa. Saya gak bisa membayangkan di tahun-tahun mendatang farmasis dari Malaysia, Thailand, Filipine, bahkan Australia akan ‘membanjiri’ Indonesia. Apalagi setahu saya, di Filipine dan Australia di sistem perkuliahan mereka, bahasa Indonesia termasuk salah satu mata kuliah wajib/pilihan. Wah, kenapa di kurikulum kita gak yah, bahasa Inggris saya aja masih ‘belepotan’, makanya masuk ke Perusahaan Konsultan yang banyak menangani klien asing, biar terbiasa menggunakannya. Hehehehe…:)

Ternyata kalau ngomongin ‘dunia kefarmasian’ gak habis-habis yah. Secara saya sudah terlanjur ‘jatuh cinta’ dengan dunia ini. Ok deh, keep struggling untuk tetap berkontribusi dalam dunia kefarmasian Indonesia. HIDUP APOTEKER INDONESIA!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s