Mengenal Lebih Dekat ‘Apoteker’

Standard

Apa seh itu Apoteker?
Apoteker itu Sarjana Farmasi yang udah lulus sebagai Apoteker (maksudnya sudah menempuh pendidikan Profesi Apoteker) dan telah mengucapkan sumpah jabatan sebagai Apoteker dan udah berhak melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai Apoteker.

Nah, Apoteker atau di beberapa negara lebih sering disebut pharmacist ini merupakan sebuah profesi. Inti pengertian profesi sendiri berarti:
– Memiliki jenjang pendidikan tertentu dan ilmu dasar (science knowledge & training)
– Monopoli dalam menjalankan praktiknya (maksudnya di sini tidak bisa digantikan perannya dengan tenaga kesehatan atau pun orang dari pekerjaan/profesi berbeda)–>monopoly of practice
– Mengandung unsur pengabdian (service oriented)
– Ada peraturan/regulatory tersendiri yang mengatur (self-regulation)–>etika & perUUan
Jadi, tidak semua PEKERJAAN khan bisa disebut sebagai sebuah PROFESI. Hehehe kata dosen saya, orang sering salah menyebut istilah. Misalnya: Profesinya apa Pak? Profesi saya tukang becak…Itu mah namanya bukan profesi tapi pekerjaan:)

Apa seh yang perlu diurus kalo udah lulus Profesi Apoteker?
Nah, sebenarnya inti tulisan saya ini saya pengen berbagi tentang bagaimana caranya mengurus surat-surat terkait izin praktik kerja setelah lulus Apoteker ini. Berhubung peraturan perUUan yang mengatur tentang registrasi Apoteker baru berubah makanya tata cara pengurusan registrasi Apoteker baru juga berubah. Lihat perbedaannya di bawah ini.

Tata Cara Registrasi Apoteker (Berdasarkan Peraturan PerUUan yang Lama)

Tata Cara Registrasi Apoteker (Berdasarkan Peraturan Peruuan yang baru)

Nah, untuk pengurusan SIPA/SIK mari saya jelaskan tersendiri. Jadi sebagai Apoteker baru kita harus melengkapi persyaratan administratif untuk permohonan SIPA/SIK yang akan diajukan ke Kepala Dinkes Kabupaten/Kota tempat kita bekerja nantinya. Namun sebelumnya kalo bekerjanya di luar tempat univ berasal maka harus mengurus yang namanya Surat Lolos Butuh, kalo saya tidak salah tangkap jadi kita harus mengurusnya terlebih dahulu ke Dinkes tempat univ berasal kemudian meminta surat lolos butuh yang ditujukan ke Dinkes tempat yang dituju. Persyaratan administratif yang harus dipenuhi, antara lain:
– Fotokopi STRA yang dilegalisir oleh KFN
– Surat pernyataan tempat praktik profesi /tempat fasilitas pelayanan kefarmasian/pimpinan fasilitas produksi/distribusi
– Rekomendasi IAI (Ikatan Apoteker Indonesia)
– Pas foto

Trus apa dan di mana seh ruang lingkup kerja Apoteker?
– Industri Farmasi;
Ternyata di industri farmasi, farmasis bisa jadi manager atau direktur utama, manager produksi, manager QC, manager QA, manager PPIC, marketing atau supervisor dari bagian QA, QC, produksi. Udah pada tahu khan yah menurut CPOB 2006, minimal di industri farmasi ada 3 Apoteker yang bertanggung jawab di bagian QA, QC, dan produksi. Tiap bagian tsb harus saling independen, makanya pikir-pikir klo ada suami-istri yang kebetulan sama-sama farmasis bekerja dalam satu industri yang sama. Hehehehe :)
– Industri Jamu
– Instalasi Farmasi RS
– Laboratorium Klinik RS
– Lembaga penelitian, misalnya di LIPI
– BPOM (Badan Pemeriksaan Obat dan Makanan)
– BPTO (pembudidayaan tanaman obat)
– Dosen/tenaga pengajar
– Kemenkes, misal di Dirjen Binfar dan Alkes
– Lingkungan Militer (TNI AD, AL, AU) dan Polisi Negara
– Apoteker di Apotek, misalnya menjadi APA (Apoteker Pengelola Apotek), Aping (Apoteker Pendamping) atau Apt Pengganti
– Apoteker di Saluran Distribusi Obat dan Alkes, baik di QC ataupun penanggung jawabnya (APJ)
– Apoteker Pebisnis, misalnya jadi PSA (Pemilik Sarana Apotek), membangun klinik kesehatan, klinik kecantikan, dll.
Wah ternyata banyak lahan yang membutuhkan farmasis-farmasis yang kompeten di bagian yang saya sebutkan di atas masing-masing. Dalam satu training leadership khusus untuk Calon Apoteker yang bertajuk ‘Pharmacist Be A Leader’ baru-baru ini bahkan mereka menyerukan ‘Pharmacist, We Need You!’.

Tentu saja, bagi sebagian besar yang akhirnya memilih menjadi ibu rumah tangga (karena faktanya sebagian besar Fakultas Farmasi isinya wanita semua, makanya Pak Dekan bilang semakin lama kampus kita semakin feminin saja…Hehehe), ilmu kefarmasian kita ternyata sangat berguna. Minimal swamedikasi (pengobatan sendiri_red) untuk keluarga, bahkan masyarakat sekitar kita pun bisa kita ajak untuk melek obat, melek kesehatan. Tidak ada ilmu yang sia-sia apalagi ilmu yang diamalkan khan?!?! Jadi, apapun pilihanmu itu cintai pilihanmu, tidak semua orang punya ilmu seperti kita, sebaik-baiknya umat Rasulullah adalah yang paling banyak memberi manfaat untuk orang lain khan?

Yogya, 14 Februari 2012
Farmasis yang terus belajar

About these ads

7 responses »

  1. Hi Huzna…obat itu bagus atau gak berefeknya dipengaruhi banyak hal, termasuk dosis, pemakaian yang sesuai aturan, pola hidup, dan perkembangan mutakhir adalah genetik tiap org juga mempengaruhi efek obat tersebut bekerja. Ada penyakit-penyakit yang tergolong minor yang bisa sembuh tanpa mengkonsumsi obat tapi kalau penyakitnya akut/kronis mau gak mau obat hrs dikonsumsi. Tentunya hrs konsultasi dulu ya sama dokter dan farmasisnya!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s